Cara Jitu Membungkam Mulut Bocah-Bocah ketika Khotbah Jumat

Siang itu hari Jumat. Orang-orang mendatangi jemaah Jumat di masjid. Seperti kebanyakan jemaah Jumat di tempat lain, di sini juga banyak anak-anak, dan sama-sama tidak bisa diam. Beberapa di antaranya masuk ke bawah sarung orang, kemudian keluar lagi dengan wajah pucat setelah melihat sesuatu yang menggantung mirip dua lonceng yang berkarat dan busuk.
Anak-anak itu berlari dari utara ke selatan, juga sebaliknya, kemudian merayap seperti kalajengking. Atau mungkin domba. Dan yang lainnya berteriak-teriak seolah masjid adalah taman kanak-kanak untuk bermain dan bersenang.
Namun ada satu kejadian, yang membuat salah seorang dari anak-anak tersebut tidak berani ke masjid. Meskipun berani, dia akan diam seribu bahasa, mirip patung yang bahkan matanya pun tidak bergerak dari arah depan.
Kejadian itu dimulai ketika Hari --nama anak itu-- tidak sengaja menendang kepala seorang jemaat dan menggulingkan orang itu dari bersila dan membuat kopiah hitam yang dikenakan terpental dua puluh meter ke arah utara.
Entah bagaimana hal serius itu terjadi tanpa kesengajaan.
Orang itu buru-buru berdiri. Kemudian lebih buru-buru duduk lagi. Dia akan berdiri kembali setelah menyadari kopiahnya tidak berada di kepala. Sedang Hari mulai waspada, memasang wajah menyedihkan yang sebenarnya adalah keaslian.
Sementara itu saya sudah tidak fokus pada khotbah yang keluar dari pengeras suara. Saya telah menahan tawa. Anak-anak yang lain berlari ke belakang, memasang kuda-kuda, dan menendang kepala tiap orang yang duduk bersila.
"Kau tidak bisa menngalahkanku!" kata Hari bangga.
Tampaknya memang benar. Hari adalah pemenang dari mereka semua. Sebab, hanya dialah yang mampu menendang kopiah hingga terpental dua puluh meter.
Keceriaan mereka berakhir ketika salat segera dimulai. Anak-anak itu turut berdiri, mulai mengikuti gerakan, dan sepertinya telah tenang.
Setelah salat Jumat berjemaah, saya tetap terbayang-bayang dengan bocah bernama Hari, dia ternyata langsung pulang, bahkan ketika imam belum sempat menggenapi salamnya.
Tentu saja saya penasaran, mengapa dia begitu ketakutan, dan rasa penasaran itu agak menemui jawaban ketika salat Jumat minggu depan.
Sebagaimana sebelum salat Jumat, khotbah dimulai. Seakan pertanda untuk anak-anak segera berkumpul dan bermain, saya amati satu-satu dan ternyata Hari tidak berada dalam kumpulan itu.
Dia duduk di belakang. Tanpa menoleh. Masih menyedihkan meski sekarang lebih pucat.
Ketika dia hendak berdiri, seorang lelaki di depannya, yang ternyata adalah orang yang ditendang kepalanya tanpa sengaja, telah memandangnya.
Orang-orang dewasa telah tahu, bahwa berbicara ketika khotbah Jumat adalah dilarang. Pun berbicara untuk mengingatkan bocah-bocah ceria itu untuk tidak bicara. Sehingga lelaki itu hanya memberi isyarat.
Bagaimana mungkin sebuah isyarat bisa dipahami oleh bocah-bocah itu? batin saya.
Nyatanya benar, isyarat itu dipahami, bahkan diingat, barangkali hingga sepanjang hari, atau sepanjang minggu sampai datang Jumat berikutnya.
Lelaki yang menatap Hari meletakkan telunjuk tangan kanannya di depan bibir, saya tahu itu adalah tanda untuk diam. Namun dia tidak berhenti sampai sana, tangan kirinya menggesek di leher dari kanan ke kiri, sambil wajahnya menirukan orang sekarat, saya tahu itu tanda untuk menggorok leher. Dan tampaknya Hari juga tahu. Dan dia tampak lebih pucat lagi.
Sialnya, lelaki itu belum berhenti, dia menikmati isyarat-isyarat yang ditujukan pada Hari, juga ketika bocah itu ketakutan.
Lagi-lagi dia letakkan jari telunjuk tangan kanannya di depan bibir, kemudian dia pindahkan ke selangkangan, sedang jari tangan kirinya mengiris-iris seolah itu adalah pisau, sambil wajahnya menirukan orang kesakitan.
Hari kemudian pulang. Sambil menangis. Lelaki itu puas, namun agak kecewa.
Saya sebenarnya kasihan kepada Hari, bocah itu mestinya tidak ditakut-takuti demikian, namun tidak bisa saya sangkal bahwa saya menahan tawa juga.
Khotbah kedua dibacakan. Saya merunduk sambil mendengarkan. Tiba-tiba seseorang dari arah belakang menendang kepala saya, kopiah saya terpental hingga ke kamar mandi sejauh dua puluh lima meter.
Saat saya hendak bangkit dan menyadari apa yang terjadi, dia berteriak kencang, "Hari! Aku mengalahkanmu!"
Saya berdiri. Kemudian duduk kembali dan menghafal wajah bocah sialan itu. Sambil menyiapkan isyarat untuk diam ketika khotbah Jumat berlangsung. Isyarat yang akan membuatnya bungkam bahkan sepanjang hari! //

Cara Jitu Membungkam Mulut Bocah-Bocah ketika Khotbah Jumat
Image by kirill_sobolev from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments