CANTIK ITU LUKA: AMAT RUMIT, AMAT RAPI!


Judul
:
CANTIK ITU LUKA
Penulis
:
Eka Kurniawan
Penerbit
:
GPU (2018, cetakan-16)
Pertama kali terbit
:
AKYPress dan Penerbit Jendela (Desember 2002)
Tebal
:
505 halaman
ISBN
:
978-602-03-1258-3


Ada banyak hal yang dibicarakan novel yang cukup tebal ini. Saya merasa sayang karena cerita mesti berakhir pada bagian 18. Tidak ada tokoh dan karakter yang sia-sia, sebagaimana seluruh cerita berhubungan. Semua diramu dengan cara khas Eka yang memesona. Alur tidak akan tertebak meskipun kalian pernah belajar perdukunan dan ilmu sihir hitam pemanggil jailangkung pada Kinkin.
Kita seperti dihadapkan pada sebuah masa di sebuah kota di tengah rawa serta cerita-cerita mulai dari mistis, rumah tangga, cinta, perselingkuhan, jenaka, politik, mistis, cinta, selingkuh, hantu komunis, politik, cinta, jailangkung, selingkuh, bunuh diri, cinta, selingkuh, pembunuhan, mistis, hantu komunis, setan, politik, komunis, cinta, rumah tangga, jenaka, ngeri, rumah tangga, cinta, selingkuh, cantik, itu, luka.
Saya sebenarnya kurang percaya diri untuk mengulas buku ini. Namun daripada hanya berakhir pada penanda dan lipatan halamannya, kemudian dilupakan, meski amat muskil jadi representasi seluruh isi, akan saya coba.
Tokoh-tokoh di Cantik Itu Luka lintas generasi. Mulai dari Dewi Ayu (anak Henri Stammler dan Aneu Stammler, mereka berdua saudara), Ted Stammler (seorang Belanda, kakek Dewi Ayu), Marietje Stammler (istri Ted Stammler), Hendri Stammler (anak Ted Stammler dari Marietje Stammler), Ma Iyang (seorang Pribumi, gundik Ted Stammler), Aneu Stammler (anak Ted Stammler dari Ma Iyang). Keterangan ini bisa dilihat pada garis keturunan di halaman paling akhir.
Dewi Ayu memiliki 4 anak, di antaranya:
  1.  Anak pertama, Alamanda
  2.  Anak kedua, Adinda
  3.  Anak ketiga, Maya Dewi 
  4. Anak keempat, Cantik

Alamanda kelak kawin dengan Sang Shodanco pahlawan Halimunda dan punya anak bernama Nurul Aini (cucu Dewi Ayu). Adinda kelak kawin dengan seorang komunis bernama Kamerad Kliwon dan punya anak bernama Krisan, Maya Dewi kelak kawin dengan kepala preman Halimunda yang kebal dengan senjata apapun bernama Maman Gendeng dan punya anak bernama Rengganis Si Cantik.
Sebagaimana Eka mempermainkan pembaca, cerita-cerita di dalamnya tidak akan sesederhana itu. Rumit sekaligus rapi. Miris sekaligus jenaka.
Bagian pertama menceritakan ketika Dewi Ayu bangkit dari kubur setelah 21 tahun kematian. Dewi Ayu minta dikuburkan setelah melahirkan anaknya yang keempat, tanpa melihat wajahnya bayinya, diberi nama: Cantik. Sederhananya, Dewi Ayu mati atas permintaannya sendiri. Namun sekarang dia bangkit setelah 21 tahun kematian.
Hal pertama yang ia ingat adalah bayinya, yang tentu saja bukan lagi seorang bayi. Dua puluh satu tahun lalu, ia mati dua belas hari setelah melahirkan seorang bayi perempuan buruk rupa, begitu buruk rupanya sehingga dukun bayi yang membantunya merasa tak yakin itu seorang bayi dan berpikir itu seonggok tai, sebab lubang keluar bayi dan tai hanya terpisah dua sentimeter saja. (hal. 2)
Dewi Ayu ini seorang pelacur. Nanti akan dijelaskan mengapa ia bisa jadi begitu.
Hal menarik di bagian pertama dan bagian-bagian lain adalah kata-kata yang menggelitik, yang mestinya disikapi manusia pada umumnya sebagai kesedihan, tapi karakter Dewi Ayu ini begitu tangguh, dia bisa membelokkan hal-hal yang mestinya jatuh pada sedih menuju jenaka.
Seperti percakapannya pada dukun bayi itu:
“Kau perempuan tua, aku tak yakin kau bisa menyusui bayimu.”
“Itu benar. Sudah habis oleh tiga anak sebelumnya.”
“Dan ratusan lelaki.”
“Seratus tujuh puluh dua lelaki. Yang paling tua berumur sembilan puluh dua tahun, yang paling muda berumur dua belas tahun, seminggu setelah disunat.” (hal. 3)
Dewi Ayu telah dikenal sebagai pelacur yang disegani seluruh kota. Sehingga ketika dia memilih mati, banyak istri-istri bahagia, dan suami-suami sedih.
Mereka tinggal berdua saja; Dewi Ayu dan Rosinah (seorang gadis bisu). Tokoh Rosinah muncul tidak tiba-tiba, Eka menceritakan bagaimana Rosinah bisa hidup bersama Dewi Ayu. Bahwa ayah Rosinah, meskipun sudah amat tua, ingin meniduri Dewi Ayu masalahnya tak ada uang sama sekali untuk membayar. Maka orang itu menyerahkan Rosinah, bagaimana pun Dewi Ayu tak akan tahu untuk apa gadis kecil macam begitu yang bisu.
Maka Rosinah menulis, agar Dewi Ayu tidur dengan ayahnya, sebab mungkin sebentar lagi ayahnya akan mati. Memang benar, ketika ejakulasi dan tubuhnya bergetar, dia melepaskan isi buah pelir serta melepaskan nyawanya. Mati di atas Dewi Ayu.
Bagian pertama kebanyakan menceritakan kebangkitan Dewi Ayu, kehidupannya di rumah bersama Cantik (anaknya yang keempat), Rosinah (pembantunya), dan beberapa hantu di dalam rumah.
Sebenarnya bagian pertama ini bukanlah mula, tapi masa depan. Bagian 2 akan meloncat ke masa lalu jauh sekali. Pada cerita sepasang kekasih bernama Ma Iyang dan Ma Gedik. Kelak dua nama itu dijadikan nama 2 bukit. Ma Iyang meloncat dari bukit satu dan hilang. Kelak Ma Gedik meloncat dari bukit kedua dan tubuhnya hancur mirip jeroan.
Kisah cinta mereka mesti berakhir ketika Ma Iyang diambil untuk dijadikan gundik belaka. Mereka berjanji bertemu 16 tahun kemudian. Ma Gedik, dalam penantian-penantiannya, dia menjadi gila, memperkosa binatang, berjalan telanjang, makan tai, sehingga dia dipasung di kandang.
Setelah 16 tahun berlalu, kegilaannya benar-benar menghilang, penduduk desa memandikannya dan telah melupakan kebinalannya yang lalu. Dia kemudian berjumpa kembali dengan kekasihnya tersayang bernama Ma Iyang itu di sebuah bukit.
“Apakah kau masih mengharapkanku?” tanya Ma Iyang. “Seluruh tubuhku telah dijilati dan dilumuri ludah orang Belanda, dan kemaluanku telah ditusuk kemaluannya sebanyak seribu seratus sembilan puluh dua kali.”
“Aku telah menusuk dua puluh delapan kemaluan perempuan sebanyak empat ratus enam puluh dua kali, dan menusuk tanganku sendiri dalam jumlah tak terhitung, belum termasuk kemaluan binatang, apakah kita berbeda?” (hal. 37)
Akhirnya mereka bercinta di atas bukit itu, tepat di bawah sinar matahari, dan di bawahnya lagi para penduduk desa yang khusu menonton. Ma Iyang, setelah meluapkan kerinduannya yang mendalam dengan kekasihnya itu, masih dalam keadaan telanjang, dia terbang. Hilang. Dan bukit itu dikenal sebagai bukit Ma Iyang.
Ceritanya tidak sampai sana saja. Seperti yang saya sebut, bahwa novel ini begitu rumit! Namun juga begitu rapi!
Ma Gedik yang mengurung diri di gubuk jauh dari desa setelah loncatan Ma Iyang itu, diajak menikah oleh Dewi Ayu. Itu sebelum Dewi Ayu menjadi pelacur. Dia masih keturunan belanda yang kecantikannya diidentifikasi sebagai tujuh bidadari yang berada dalam satu tubuh, bersinar, dan begitu memancing berahi siapapun.
Bagian ini juga menceritakan asal-muasal Dewi Ayu. Ketika anak itu masih orok, ditinggal oleh kedua orang tuanya (Henri Stammler dan Aneu Stammler) di rumah neneknya (Marietje Stammler).
Hal-hal yang mestinya jatuh pada  kesedihan, dibelokkan oleh karakter Dewi Ayu ini menuju jenaka. Meskipun miris. Saya makin kagum pada Dewi Ayu, jika orang itu ada, meskipun pelacur, barangkali bisa jadi guru spiritual saya.
“Mereka petualang-petualang sejati,” katanya pada Ted Stammler.
“Kau terlalu banyak baca buku cerita, Nak,” kata Kakeknya.
“Mereka orang-orang religius,” katanya lagi. “Di dalam kitab suci diceritakan seorang ibu membuang anaknya ke Sungai Nil.”
“Itu berbeda.”
“Ya, memang. Aku dibuang di depan pintu.”
Barangkali memang begini khas dari tulisan Eka, yang paling tampak adalah alurnya. Lihai dipermain-mainkan. Setelah membahas masa kecil Dewi Ayu, cerita kembali lagi ketika dia dan Ma Gedik menikah. Keduanya benar-benar menikah sebagaimana keduanya benar-benar melewatkan malam pertama.
Ma Gedik khawatir bahwa dirinya hanya sebagai kambing hitam dan menganggap Dewi Ayu telah bunting belaka. Kenyatannya tidak demikian, dia mencintai lelaki tua (yang seharusnya jadi kakeknya, ini rumit, sebenarnya) sampai keriput-keriputnya, dan juga sampai usus-ususnya sekalipun. Dia begitu mencintai kakek itu, meskipun tidak pernah bertanya dahulu apakah pelirnya masih berfungsi atau tidak.
Hingga kemudian Dewi Ayu membuktikan bahwa dia masih perawan dan tidak agar suaminya, Ma Gedik, tidak menganggap dirinya sebagai kambing hitam semata. Sebenarnya akan terlampau menjijikan, kira-kira begini, Dewi Ayu mengangkang dan mengangkat pangkal selangkangannya tepat di depan wajah kakek tua itu. Memasukkan jari tengahnya sendiri pada lubang yang tersedia. Meringis. Dan menemukan pada jari itu ada darahnya. Mengoleskannya ke dahi suaminya, turun ke bawah hingga dagu. Barangkali sudah untung bahwa lelaki tua itu tidak mati kaku seketika, dia hanya bergetar barangkali merasa ngeri sekali.
Itulah ketika Ma Gedik lari pada besoknya, seperti anjing, atau kadal, yang jelas diceritakan bahwa larinya begitu kencang seperti Ma Iyang dahulu, menuju bukit di sebelah bukit Ma Iyang. Meloncat atau terbang atau apalah, yang jelas lelaki tua itu berakhir seperti jeroan.
Orang-orang menamai bukit itu sebagai bukit Ma Gedik, di samping bukit Ma Iyang.
Bagian tiga didominasi pada perang. Dewi Ayu sebagai orang Belanda, meskipun namnya Dewi Ayu.... saya kutipkan saja...
...mereka tak akan percaya begitu saja pada kebohongan bahwa ia seorang pribumi, tak peduli namanya Dewi Ayu.
“Yah, begitulah,” katanya. “Seperti semua orang tahu Multatuli itu pemabuk dan bukan orang Jawa.”
Dari kalimat ini saya berniat membaca buku berjudul Max Hevelaar yang ada di sebelah saya. Memotivasi saya membeli dua botol anggur seharga 65, dan menghabiskannya pada malam sebelum menulis ulasan ini. Sebenarnya sekarang, saya masih mual, dan tubuh terasa remuk belaka.
Sekarang Dewi Ayu di sana, sebuah penjara. Di sana pula berkenalan dengan Ola yang kelak menjadi nama anak pertama Dewi Ayu: Alamanda. Bagaimana bisa? Tidak bisa menebak? Tentu saja!
Dia kenal Ola, dan bercinta dengan komandan jepang itu agar ibu Ola mendapat obat dan dokter. Setelah bercinta dokter itu benar-benar datang, dia memastikan dengan yakin bahwa ibunya Ola telah mati.
Mungkin hanya Dewi Ayu yang menganggap saat-saat di penjara itu sebagai tamasya. Keangungannya semakin muncul, dan saya semakin kagum.
Tidak lama berada di tempat terpencil itu, Dewi Ayu, Ola, dan dua puluh perempuan seumuran yang cantik-cantik dibawa ke penjara lain yang lebih mewah. Sebuah rumah dengan fasilitas super elit. Mereka akan mengenal rumah itu sebagai pelacuran Mama Kalong. Mucikari itu dikenal dan suka dengan sebutan ‘Mama Kalong’. Dia tidur pada siang hari dan terjaga pada malam hari, begitulah.
Bagian 3 ditutup dengan percakapan:
“Kau pikir kau tahu apa yang akan terjadi atas kita?” tanya Ola.
“Ya,” jawabnya. “Jadi pelacur.”
Mereka juga tahu, tapi hanya Dewi Ayu yang berani mengatakannya. (hal. 84)
Untuk beberapa alasan, kalian mesti membaca buku ini, membayangkan bercinta dengan Dewi Ayu, merasakan keagungan dan ketenangan perempuan luar biasa ini. Dan kalian akan benar-benar ikut terpesona.
Bagian 4 menceritakan tentang kehidupan perempuan-perempuan itu di rumah pelacuran Mama Kalong.
“Kita akan jadi pelacur!” teriak Ola sambil duduk dan menangis.
“Lebih buruk dari itu,” kata Dewi Ayu lagi. “Tampaknya kita tak akan dibayar.” (hal. 89)
Bagaimanapun anak Dewi Ayu, yang kelak dilahirkan juga di rumah pelacuran Mama Kalong diberi nama Alamanda adalah nama Ola. Tiap-tiap perempuan diberi kertas, berisikan inisal nama mereka yang berasal dari nama bunga. Dewi Ayu mendapat nama Mawar, itulah, Ola mendapat nama Alamanda.
Bagian lima mengabarkan bahwa ketenaran Dewi Ayu didengar nyaris seluruh kota. Kemudian muncul seorang petualang bernama Maman Gendeng, yang berharap bertemu Rengganis Sang Putri. Dia akan bertemu dengan Rengganis Sang Putri, jika saja dia hidup sekian ratus sebelum itu.
Orang-orang percaya bahwa seluruh penduduk Halimunda adalah keturunan Rengganis Sang Putri yang kawin dengan anjing. Dia berpuasa seratus hari untuk mendapatkan suami yang tidak peduli dengan kecantikannya yang luar biasa. Kemudian siapa pun yang dilihatnya pertama kali dan paling dekat melalui jendela, itulah suaminya.
Setelah menyelesaikan puasanya, benar saja, seekor anjing tampak menunggu Rengganis Sang Putri menjadikannya suami. Begitulah dia melarikan diri bersama suaminya (anjing itu) ke daerah rawa-rawa yang kelak diberi nama Halimunda.
Maman Gendeng datang ke Halimunda. Kemudian menjadi ketua preman setelah membunuh ketua preman sebelumnya serta melemparkannya ke laut menjadi makanan dua hiu temannya.
Maman Gendeng pada masa depan adalah menantu Dewi Ayu. Sama seperti Kamerad Kliwon dan Sang Shodanco.
Hanya Kamerad Kliwon, seorang menantu yang belum pernah meniduri Dewi Ayu. Maman Gendeng pernah. Sang Shodanco pernah.
Ketika Sang Shodanco menidurinya, Maman Gendeng tahu, dan dia telah memerintahkan kepada seluruh orang di Halimunda untuk tidak melakukannya. Kabar itu didengar pula oleh Maman Gendeng, dan dia masuk ke markas Sang Shodanco, mengancamnya akan memporak-porandakan markas militernya jika dia melakukan hal yang sama.
Kelak kejadian itu akan menjadi benih dendam. Yang tidak terlupakan. Tentang pemberian malu yang begitu untuk pahlawan Halimunda.
Cerita bagian 4 dan 5 adalah masa lalu. Sedang pada bagian pertama tadi ketika Dewi Ayu telah bangkit dari kubur. Sekarang, anaknya masih Alamanda dan Adinda.
Semuanya cantik. Begitu menawan. Hingga sebenarnya, Sang Shodanco yang diminta langsung oleh Presiden Republik Indonesia untuk menjabat sebagai Jenderal Besar karena jasa dan kepahlawanannya melakukan gerilya dan mengusir Jepang dan memberantas komunis, terpukau juga oleh kecantikan Alamanda, anak Dewi Ayu.
Ketika Sang Shodanco datang ke tempat pelacuran Mama Kalong, dan bertemu dengan Dewi Ayu, meskipun juga menidurinya, sebenarnya bukan tanpa alasan. Dia dibuat berahi dan tidak tertahan karena Alamanda. Tapi alasan ini, diceritakan setelahnya.
Eka begitu mahir membuat kejutan-kejutan dari kejadian-kejadian yang tampaknya biasa saja.
Sedangkan pada bagian 6 telah dikabarkan bahwa Repulik Indonesia merdeka. Mereka menemukan seorang mayat yang dikira mati karena memberontak atau meniduri gundik Kaisar Hirohito.
Mayat itu membawa salinan naskah proklamasi. Bagaimanapun kabar itu diterima sudah sangat terlambat. Orang-orang Halimunda suka saja merdeka pada tanggal 23 September.
Sebenarnya itulah saat-saat gerilyanya. Sang Shodanco melihat anak buahnya dieksekusi di bawah pohon flamboyan.
“Jangan pernah berniat mati untuk dilupakan,” katanya pada prajurit tersisa yang masih menemani, ketika mereka mengibarkan bendera dalam duka cita di kubu gerilya. “Meskipun percayalah, tak banyak orang bersedia mengingat apa pun yang bukan urusannya.”
Alur yang disajikan Eka teramat rumit. Meskipun teramat rapi. Saya nyaris putus asa sampai di sini, hendak menceritakan apa saja yang ada di dalam maupun luar buku. Hampir saya hapus juga ulasan ini. Melanjutkan ngopi tanpa membuat tulisan; ulasan ataupun skripsi.
Bahkan dalam satu bagian, alur dan tokoh utamanya juga berubah. Kita akan melihat pola serupa di Lelaki Harimau, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, ataupun O.
Ternyata, keagungan dan ketenangan luar biasa dari Dewi Ayu juga diwariskan oleh anaknya, Alamanda. Dia membuat Sang Shodanco seperti anak kecil belaka. Seorang Panglima Besar dan pahlawan Halimunda yang tidak pernah kalah sekalipun dalam perang. Saat itu pertarungan babi, sebagai salah satu syukur karena Sang Shodanco memberantas babi-babi (meskipun beberapa babi berubah jadi manusia ketika dibunuh) dan menyelamatkan petani dari panennya. Ketika itulah Sang Shodanco melihat Alamanda dan langsung jatuh cinta.
Bagaimanapun, Sang Shodanco belum pernah menikah. Hanya sesekali pergi ke pelacuran Mama Kalong dan bercinta dengan Dewi Ayu.
Dengan memberanikan diri, dia menemui Alamanda yang duduk ikut menonton pertunjukan babi dengan para penduduk Halimunda.
“Tak baik seorang gadis berkeliaran seorang diri di malam hari,” kata  Sang Shodanco membuka basa-basi.
Alamanda menatap lurus ke arah mata Shodanco masih dengan tatapan seolah acuhnya dan berkata, “Jangan bodoh, Shodanco, aku berkeliaran dengan ratusan orang malam ini.”
Kita tidak akan tahu, bahwa Alamanda telah punya kekasih. Akan saya beritahu betapa rumitnya konflik di dalam novel ini.
Dewi Ayu lahir dari dua saudara yang bercinta meskipun beda ibu. Dewi Ayu menikah dengan lelaki yang seharusnya menjadi kakeknya. Semua menantu Dewi Ayu pernah menidurinya kecuali Kliwon. Alamanda adalah kekasih Kliwon, sebelum kelak diperkosa Sang Shodanco dan menikah dan memakai celana dalam besi yang hanya bisa dibuka dengan mantra sehingga Sang Shodanco harus mengeluarkan isi pelirnya dengan tangan sendiri di lubang kakus melulu. Maman Gendeng diminta menikahi Maya Dewi, ketika usianya masih 12, dan belum bercinta selama 5 tahun setelah hari pernikahannya.
Konfliknya tidak berakhir di sana. Cucu Dewi Ayu juga demikian. Krisan memiliki hubungan dengan keponakannya sendiri, semuanya! Krisan memperkosa dan membuat bunting anak Maman Gendeng dan Adinda: Rengganis Si Cantik. Krisan jatuh cinta dengan anak Sang Shodanco dan Alamanda dan membongkar kuburannya dan menyimpan mayatnya di bawah ranjang tanpa membusuk sebelum menenggelamkannya di laut yang sama ketika dia membunuh Rengganis Si Cantik dan bayinya. Krisan ngentot dengan Si Cantik, yang tidak lain adalah bibinya, anak Dewi Ayu sendiri.
Itu masih konflik percintaan belaka, belum mistisnya, belum politik dan komunisnya, belum yang lain-lain yang banyak sekali. Bagaimana Eka menulis semuanya, apa kalian penasaran? Sama.
Bagian 7 ini Kliwon muncul.
“...Di malam Lebaran, mereka akan memanggam ayam curian, dan esok harinya, mereka menemui pemilik ayam untuk minta maaf.”
Krisan digambarkan sebagai lelaki yang tampan, nakal, suka pergi ke tempat pelacuran, dan suka maling. Tentunya di samping bahwa dirinya sebagai lelaki komunis, seperti ayahnya.
Ibunya, Mina, membiarkan dia menjadi binal begitu. Daripada mesti dieksekusi seperti suaminya yang komunis.
Tentu saja sisi lain dari novel ini adalah Eka begitu berani menulis masalah politik yang pada masa menjadi momok mengerikan.
Ketampanan Kliwon, serta kecerdasan otaknya, dia gampang mendapat perempuan. Dia adalah penakhluk perempuan. Sedang Alamanda yang para pembaca kira perempuan polos, dia –dengan kecantikan dan kecerdasannya pula—menikmati ketika lelaki-lelaki mendekatinya kemudian mencampakkannya.
Pertarungan itu dimulai, Kliwon dan Alamanda, meskipun keduanya kelak saling mencintai secara tulus. Tapi Krisan memiliki perasaan yang sebenarnya kepadanya, beberapa waktu hingga membuatnya sakit, dan gila. Hingga Kliwon menjadi gelandangan dan membunuh seseorang karena melihatnya memperkosa seorang perempuan di trotoar dengan menebas leher nyaris putus. Kemudian bercinta dengan perempuan tadi. Dia menyadari bahwa perempuan itu adalah gila.
Penolakan Alamanda begitu menyakiti hatinya, semua berjalan seakan hidup Kliwon akan berakhir menjadi tidak berguna. Tapi dia kembali ke rumah, memakai topi pet pemberian Kamerad Salim, belajar di ibukota, dan kembali lagi setelah mendengar kabar bahwa kekasihnya Alamanda menikah dengan Sang Shodanco.
“Kau telah melihat ayahmu mati dieksekusi Jepang,” katanya. “Kini kau lihat orang ini mati di tangan tentara Republik. Pikirkanlah, jangan sekali-kali berharap jadi orang komunis.”
“Banyak raja telah digantung,” kata Kliwon. “itu tak menyurutkan orang untuk ingin jadi seorang raja.” (hal. 185)
Itu adalah percakapan Kliwon dengan Mina. Dan ‘orang itu’ yang dimaksud adalah Kamerad Salim yang memberikan topi pet kepadanya.
Barangkali saat itu, Kliwon  lebih memilih memperjuangkan Partai Komunis daripada menunggu cinta Alamanda. Dia dikira ibunya akan kembali jadi gelandangan dan gila, tapi tidak, bagian  ditutup dengan Kliwon yang menjadi Kamerad Kliwon.
“Kau tak tampak seperti gelandangan, Nak.”
“Sekarang dan mulai hari ini,” kata Kliwon sambil membalikkan badan menghadapi ibunya, “panggil aku Kamerad Kliwon, Mama.” (hal. 195)
Bagian 8 hubungan Kliwon dengan Alamanda dimulai kembali. Di sini Alamanda takhluk pada permainan yang dibuatnya sendiri. Bahwa Alamanda telah mencintai Kliwon begitu dalam. Sedang Kliwon juga masih mencintai Alamanda.
Suatu ketika mereka berdua berkencan, di tengah laut, berdua saja selama seminggu di sana. Makan ikan mentah dan berenang bersama. Laut tempat mereka kencan ini, kelak digunakan oleh Krisan untuk membunuh Rengganis Si Cantik dan menenggelamkan Nurul Aini.
Meskipun berdua saja, tanpa ada nelayan yang tahu, mereka tidak melakukan apa-apa. Bahkan ketika telanjang bulat sekalipun.
Kliwon menganggap itulah cinta yang sebenarnya. Dia tidak akan menyentuh gadis di depannya sama sekali sebelum mereka menikah. Itu terjadi sebelum Kliwon pergi ke ibukota untuk melanjutkan belajarnya.
“Perkosalah aku sebelum kau pergi.”
“Tidak,” kata Kamerad Kliwon.
“Kenapa? Kau meniduri hampir semua gadis Halimunda tapi kau tak mau memerkosa kekasihmu sendiri?”
“Sebab kau berbeda.” (hal. 210)
Mereka berciuman di bawah pohon ketapang di depan stasiun. Pohon itu akan rubuh oleh Kliwon sendiri, memotongnya dengan golok besar menjadikannya sebagai kayu bakar, membawanya ke rumah Alamanda.
Karena setelah kembalinya Kliwon ke Halimunda, kekasihya itu menikahi Sang Shodanco.
Pada awal mula pertemuan Alamanda dan Sang Shodanco, gadis itu menganggap hanya sebagai permainan mengusir bosan.
“Kini permainan kesekian, dengan calon korban orang paling terkenal di Halimunda, penguasa rayon militer yang pernah memimpin pemberontakan paling celaka melawan Jepang, Sang Shodanco. Ibarat seorang nelayan tua yang menangkap ikan marlin besar di hari yang tenang...” (hal. 211)
Ingatan saya melejit pada The Oldman and The Sea karya Hemingway sebelum saya tertawa dalam jenaka entah apa.
Sang Shodanco melamar baik-baik Alamanda. Bagaimanapun Alamanda telah memiliki kekasih, dia sedang menunggu kekasihnya pulang, dengan ketenangan dan keagungan yang hebat menolak sang pahlawan.
“Cinta itu seperti iblis, lebih sering menakutkan daripada membahagiakan. Jika kau tak mencintaiku, paling tidak bercintalah denganku.” (hal. 221)
Itulah beberapa waktu sebelum Sang Shodanco membawa Alamanda ke markas gerilyanya di tengah hutan sebelum memperkosanya. Dengan cara itu, lagi-lagi, Sang Shodanco memenangkan perang. Meskipun perang dengan cinta.
Bagian 9 menceritakan tentang kepulangan Kliwon. Dia tidak berniat membalas dendam pada Sang Shodanco, karena menyadari bahwa orang itu telah terbiasa memenangkan perang.
Maka yang dilakukan Kliwon adalah memotong pohon ketapang tadi.
Pernikahan Alamanda dan Sang Shodanco terjadi pula. Dirayakan paling meriah selama sejarah Halimunda. Ketika malam pertama itu, Sang Shodanco menyadari bahwa istrinya memakai celana dalam besi yang hanya bisa dibuka pakai mantra.
Shodanco tersiksa betul dengan perlakuan istrinya. Di sisi lain, jika keluar bedua, mereka akan tampak seperti dua kekasih yang amat berbahagia, begitu mesra, dan tidak terjadi hal-hal mengerimakan dalam rumah tangga.
Terpaksa Sang Shodanco mendobrak kamar mandi ketika istrinya di dalam, dia menggotong tubuh telanjang, tepat sebelum Alamanda memakai kembali celana dalam besinya.
Tentu saja istrinya itu meronta-ronta, hingga dua kali terjadilah, pemerkosaan dalam rumah tangga. Hasil pemerkosaan yang dilakukan Shodanco kepada istrinya itu adalah kehamilan. 2 kali hamil dan 2 kali pula isinya hanya angin.
Nurul Aini adalah anak mereka berdua, yang ketiga, yang benar-benar lahir, setelah dua anak sebelumnya hilang entah ke mana.
“Dengar, jika kau hanya butuh lubang untuk kemaluanmu, semua sapi dan kambing punya lubang.”
Sebelum anak pertama di perut Alamanda hilang seperti asap, Kamerad Kliwon, yang dulu adalah kekasihnya yang paling dicinta, bahkan hingga sekarang ini, mengatakan bahwa tidak ada apa-apa di perut itu selain angin.
Perkataan-perkataan Kamerad Kliwon terbukti benar. Bahkan setelah ramalan bahwa anak itu lahir sebelum 12 hari Krisan, anak Kamerad Kliwon dengan Adinda lahir.
Bagian 10 menceritakan tentang Edi Idiot. Penguasa preman di Halimunda sebelum dijadikan makanan untuk dua hiu sahabat Maman Gendeng.
Maya Dewi yang berusia masih 12 tahun dinikahkan dengan Maman Gendeng. Melihat kisah cinta kedua anak lainnya, Alamanda dan Adinda, yang tidak jelas jeluntrungnya.
Alamanda telah menikah, Adinda belum. Tapi Dewi Ayu tetap bersikeras untuk menikahkannya dengan Maman Gendeng. Penguasa preman setelah membunuh Edi Idiot.
Maya Dewi tidak menolak permintaan ibunya, dia gadis yang baik, bahkan paling baik di antara kedua lainnya. Ini masa lalu, saat ini belum ada Si Cantik anak Dewi Ayu yang keempat, juga Dewi Ayu belum memutuskan untuk mati. Satu-satunya yang menolak adalah Maman Gendeng sendiri. Jawara yang paling ditakuti, yang berniat memiliki Dewi Ayu sendiri, yang juga telah berkencan dengannya, malah diminta untuk menikahi anaknya.
“Ia masih dua belas tahun.”
“Anjing kawin di umur dua tahun dan ayam di umur delapan bulan.”
“Ia bukan anjing dan apalagi ayam.”
“Itu karena kau tak pernah pergi ke sekolah. Semua manusia mamalia seperti anjing, dan berjalan dengan dua kaki seperti ayam.” (hal. 266)
Begitulah mereka berdua menikah. Tapi selama lima tahun, Maman Gendeng tidak berani untuk menyentuh istrinya. Sehingga dia pergi ke pelacuran Mama Kalong.
“Kenapa kau datang kemari?” tanya Dewi Ayu.
“Aku tak bisa menahan berahiku.”
“Kau punya istri.”
“Ia begitu mungil untuk dicelakai. Begitu tanpa dosa untuk disentuh. Aku ingin meniduri mertuaku sendiri.”
“Kau benar-benar menantu celaka.” (hal. 272)
Kemudian di akhir bagian 10, Maman Gendeng datang kembali ke rumah pelacuran itu, bertemu dengan Dewi Ayu, bukan untuk meniduri mertuanya lagi, tapi untuk pamitan. Bahwa dengan memiliki istri seperti Maya Dewi, dia tak ingin menyentuh perempuan manapun lagi.
Bagian 11 menceritakan tentang Kamerad Kliwon, serikat nelayan dan permasalahannya dengan kapal-kapal besar dari usaha Sang Shodanco, serta usaha Kamerad Kliwon membuat Partai Komunis besar di Halimunda.
“Itulah pokok soal pertentangan komunis dan semua agama di dunia: berebut umat.” (hal. 284)
Konflik di bagian ini ketika Nurul Aini (yang pertama) hilang seperti angin serupa yang diucapkan Kamerad Kliwon. Sebelum itu, Kliwon yang mewakili nelayan-nelayan telah bersepakat dengan Shodanco untuk memindahkan kapal besarnya di perairan tradisional nelayan serta menjual ikannya di dermaga lainnya.
Sang Shodanco yang murka anaknya hilang kemudian mendatangkan kapal-kapal besar itu kembali, bahkan menambah 1 lagi. Mereka berdua menganggap saling mengkhianati atas janji yang dibuat; Shodanco menganggap Kliwon berkhianat atas janji menarik kembali kutukan karena dia dulunya adalah kekasih istri Shodanco, Kliwon menganggap Shodanco berkhianat atas janji menarik kapal-kapal yang beroperasi di perairan dangkal tempat nelayan-nelayan.
Shodanco memperkosa istrinya lagi. Sehingga Nurul Aini (yang kedua) akan lahir. Sama seperti Nurul Aini (yang pertama) anak itu hilang juga. Sang Shodanco lebih murka dari siapapun. Dia mengambil senapan dan menembaki apa saja. Mencari Kamerad Kliwon di pantai.
Bagian 12 bercerita tentang pecahnya pemberontakan Partai Komunis.
Kebiasaan Kamerad Kliwon pada pagi adalah menungu koran datang. Ketika jenderal di ibukota dibunuhi, Kliwon tetap menunggu korannya. Adinda yang terus menemani tetap meyakinkan bahwa koran itu tidak akan datang hari ini, bahkan selama-lamanya, bungkin dibredel.
Tetapi Kliwon tetap besikeras. Sang Shodanco yang memimpin pembasmian komunis di Halimunda mencari-cari Kliwon. Mistis itu terjadi lagi, dia berada di kantor Kamerad Kliwon dan tidak menemukan siapapun di sana, Adinda yang duduk di beranda bersama Kliwon dibuat bingung mengapa tentara Republik itu melihat mereka. Sementara kekacauan makin besar, Kliwon tanpa putus asa terus menunggu korannya datang.
Dia kembali ke tempat Kliwon, kali ini melihatnya dan menangkapnya. Kamerad itu akan dieksekusi pada pukul lima pagi.
“Kau akan dijemput pukul lima kurang sepuluh menit, dan tepat pukul lima proses kematianmu segera berlangsung. Katakan apa permintaan terakhirmu,” kata Sang Shodanco akhirnya.
“Inilah permintaan terakhirku: kaum buruh sedunia, bersatulah!” (hal. 337)
Pada bagian 13 Sang Shodanco dan Maman Gendeng berteman. Mereka berdua mulai menceritakan hal-hal pribadi, pertemanan yang aneh. Meskipun kelak, Sang Shodanco sendiri yang membuat saudara Alamanda jadi janda semua.
Maman Gendeng mengingatkan untuk bersabar belaka. Shodanco mengingat kedua anak yang hilang karena dia melakukan pemerkosaan kepada istrinya.
Buah kesabaran keduanya adalah anak yang benar-benar lahir. Maman Gendeng akhirnya menyentuh Maya Dewi, dan karena tidak jadi membuat Kamerad Kliwon mati atas permintaan istrinya, Sang Shodanco mendapat cinta dari Alamanda. Mereka berdua, kedua keluarga itu akhirnya memiliki anak.
Memang benar Kamerad Kliwon tidak dieksekusi. Dia bebas. Meskpun telah disiksa karena eksekutornya geram dengan keputusan Sang Shodanco. Dia ditemukan Adinda, dibawa ke rumah sakit, sebelum menikah.
Kamerad Kliwon dan Adinda menikah juga, mereka memiliki anak bernama Krisan. Sehari sebelum Kliwon ditemukan gantung diri di kamar menggunakan beha Adinda (meskipun sebenarnya gantung diri pakai sprei yang dipelintir jadi tali), dia sempat bercinta dengan Alamanda. Hal belakangan diketahui belaka oleh Adinda.
Kinkin sendiri adalah anak dari penjaga perkuburan Budi Dharma. Dari seorang ayah bernama Kamino dan ibu bernama Farida. Telah sekian lama tidak ada yang mau kawin dengan Kamino, hingga bertemu Farida yang terus menunggu makam ayahnya dari pagi hingga malam, dan dari malam hingga pagi pagi.
Kikin lahir di liang kubur, setelah farida jatuh dari tidurnya, dikira Kamino mati semua, ternyata anak itu keluar sendiri.
Sebelum Krisan lahir, Kliwon sempat dibuat debar juga. Adinda memeriksakan diri ke rumah sakit. Kemudian:
“Apa kata dokter?”
“Ia bilang, semoga tak jadi pelacur seperti neneknya, dan seorang komunis seperti ayahnya.” (hal. 363)
Palajaran baik untuk kita semua, cerita di dalamnya sebenarnya sedih yang begitu. Bisa dipakai perbandingan untuk kehidupan kita yang dianggap sedih juga, bahwa kesedihan kita bukanlah apa-apa dibandingkan kesedihan generasi itu. Begitu rumit, dan rapi. Bahwa kesedihan bukan lagi sebuah kesedihan jika dipandang dari paradigma lain yang lebih anggun dan tenang dan jenaka.
Bagian 14 begitu membuat saya terpingkal. Bagaimana tidak, di sana bercerita tentang hantu komunis. Hantu-hantu yang muncul karena pembantaian yang dilakukan Shodanco.
Sang Shodanco tampaknya telah gila, sebab di manapun di tiap sudut Halimunda, ada hantu-hantu yang dia sebut sebagai hantu komunis.
Semua tingkah seperti mabuk dan bernyanyi internationale dijebloskan langsung oleh Shodanco ke penjara tanpa proses pengadilan, dia bilang, “Mereka kerasukan hantu komunis.”
Pernah suatu ketika, setelah berkali-kali kelakukan Sang Shodanco memasukkan orang ke penjara, Alamanda berkomentar:
“Apa kau gila, menjebloskan orang ke tahanan hanya karena mabuk?”
“Ia kerasukan hantu komunis.” (hal. 376)
Hantu-hantu komunis itu pula yang memberitahu Adinda apa yang Kliwon perbuat bersama Alamanda di rumah Sang Shodanco. Sederhananya, Adinda tahu, bahwa suaminya bercinta dengan Alamanda, tapi tak mempermasalahkan asal membuat dia bahagia.
Kliwon bunuh diri. Berubah jadi hantu komunis. Artinya hantu komunis di Halimunda tambah satu.
Bagian 15 diawali dengan Rengganis Si Cantik –bukan Rengganis Sang Putri--- melahirkan bayinya. Penduduk Halimunda berkumpul untuk melihat orok itu.
Orang-orang percaya belaka bahwa yang memperkosa Rengganis Si Cantik adalah anjing. Ini akan dijelaskan bahwa yang telah melakukannya adalah Krisan, sepupunya. Sebab Krisan mencintai Nurul Aini (Ai), sedang Ai begitu menyukai anjing, sehingga Krisan berperilaku seperti anjing untuk sekadar menarik perhatian Ai.
Ketika Rengganis Si Cantik menghilang, karena kabur, berharap menikah dengan Krisan. Selain orang tuanya yang sedih, Kinkin juga mengalami kesedihan, juga Ai.
Ai yang perannya menjadi penjaga Rengganis Si Cantik jatuh sakit dan mati tidak lama kemudian. Setelah dikuburkan, kuburan itu dibongkar kembali oleh Krisan, dengan cara menggaruk-garuk seperti anjing. Krisan meyakini bahwa Ai akan senang melihatnya begitu.
Sisi mistis mulai ditampilkan kembali, Kinkin yang memiliki ilmu hitam segera memanggil arwah yang dia sebut sebagai ritual jailangkung untuk mengetahui di mana Rengganis Si Cantik berada. Namun sia-sia belaka, sebab ada roh jahat yang lebih kuat dan dipenuhi dendam dan kebencian yang menhalau Kinkin.
Bagian 16 ada semacam kesimpulan yang menjelaskan kesemuanya.
Pengakuan: Krisanlah yang menggali kuburan Ai dan menyembunyikan mayatnya di bawah tempat tidur. (hal. 422)
Pengakuan kedua: Krisanlah yang membunuh Rengganis Si Cantik dan membuang mayatnya ke tengah laut. (hal. 432)
Pengakuan ketiga: Krisanlah yang memerkosa Rengganis Si Cantik di toilet sekolah dan tak bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. (hal. 441)
Bagian 17 diawali dengan Maman Gendeng yang bangkit lagi setelah moksa.
Ketika anaknya, Rengganis Si Cantik ditemukan di pantai dan kenyatannya dia dibunuh dengan dicekik, dia marah sekali. Bayinya tidak ditemukan, sebab, bayi itu telah mati dan dimakan ajak-ajak.
Maman Gendeng mengobrak-abrik seisi Halimunda. Dia ingin menemukan siapa yang membunuh anaknya, hingga pasukan Sang Shodanco diturunkan untuk menghentikan kelakuan Maman Gendeng.
Bukannya kalah dan bisa ditumbangkan, Maman Gendeng berdiri paling akhir, dia lari ke hutan karena tidak kuat melihat para anak buahnya mati. Sedang dirinya sendiri tidak bisa mati, kebal semua senjata, dan paling kuat di antara mereka.
Pernah polisi datang ke rumah mereka dan melakukan pemeriksaan.
“Kalian tak akan mungkin menemukan pembunuhnya di rumah ini,” katanya jengkel, “kalian telah bodoh sejak dalam pikiran.” (hal. 464)
Apa kalian tiba-tiba teringat sesuatu?

Bagian 17 itu berakhir tanpa mayat Ai ditemukan, tanpa pembunuh Rengganis Si Cantik ditemukan.
Bagian terakhir dan semua menjadi jelas kecuali biji kedondong di tenggorokan Nurul Aini.
Roh jahat yang kuat yang membuat kutukan itu sekarang tertawa. Semua anak Dewi Ayu telah jadi janda. Yang terakhir, Cantik, bayinya mati dan dikuburkan tanpa memberi nama.
Roh jahat itu adalah arwah Ma Gedik, yang dendam karena cintanya, Ma Iyang, diambil jadi gundik oleh Belanda bernama Ted Stammler.
“Lihatlah anak-anakmu,” kata roh jahat itu, “mereka kini menjadi janda-janda menyedihkan, dan yang keempat janda tanpa pernah kawin.” (hal. 478)
Dewi Ayu yang bangkit kembali setela 21 tahun kematian sebenarnya bukan manusia. Ya, sekarang dia bukan manusia, roh jahat itu dipanggil oleh Kinkin untuk menampakkan diri di rumah Dewi Ayu. Perempuan itu mengambil belati dan menusuk-nusuk roh jahat dan menghilang.
Keduanya lenyap, Dewi Ayu dan arwah Ma Gedik kembali ke alam orang-orang mati.
Kita tertipu, kawan, semuanya berulang, kembali ke bagian pertama. Persis seperti Lelaki Harimau yang membuat kita sama-sama tertipu. Kita mesti kembali ke masa lalu, untuk tahu akhir ceritanya, latar belakangnya, dan mungkin motif dari tiap-tiap orang di Lelaki Harimau.
Tapi di Cantik Itu Luka, halamannya tidak sedikit, kawan. Kita tertipu sekali lagi.
Kinkin akhirnya membunuh lelaki yang tidak tampak yang telah membuat Si Cantik yang buruk rupa bunting, juga telah membunuh Rengganis Si Cantik perempuan yang ia cintai. Dia membunuhnya di kamar Si Cantik, lelaki itu adalah Krisan.
Keempat anak Dewi Ayu, Alamanda, Adinda, Maya Dewi, dan Si Cantik menjadi keluarga yang dipenuhi kasih sayang antara satu dan yang lainnya.
Bagian menarik setelah Kinkin membunuh dengan senapan yang telah dia latih sejak Rengganis Si Cantik mengaku telah diperkosa anjing adalah:
Akirnya ia menemukan kuburan Krisan, di samping kuburan Kamerad Kliwon. Pada nisannya jelas tertera nama itu, sehingga ia tak mungkin salah. Ia membuat nisan baru dan membuang nisan bernama Krisan, menggantinya dengan nisan yang baru ia bikin. Di sana kini tertulis: ANJING (1966-1997). (hal. 504)
Soal judul, Cantik Itu Luka, diambil dari ucapan Krisan kepada Si Cantik yang buruk rupa, karena telah mencintai perempuan yang cantik dan patah hati. Tepat di kalimat paling akhir di novel ini. Si Cantik bertanya kepada Krisan, kenapa dia mencintai seorang perempuan yang buruk rupa? Kemudian dijawab bahwa sebab cantik itu luka.
Saya kembali teringat bahwa judul Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas dengan gambar burung tidur, juga diambil dari bak truk Ajo Kawir belaka.
Tentu saja penceritaan ulang akan jauh menggambarkan isi keseluruhan, bacalah, dan hitung berapa kali kalian bilang "jancuk!" atau "jembut!" atau "jingan!".
Sulit ditebak. Mengejutkan. Berani. Rumit. Rapi.
Dokumen pribadi

Tinggalkan Komentar

0 Comments