Seorang Lelaki, Dua Perempuan, dan Imajinasi yang Dipaksa Datang

Hari Sabtu bulan ini tahun ini dan kehidupan tetap begini. Seorang lelaki sedang duduk, menatap kehidupannya yang kacau luar biasa. Sawah hijau yang luas sekali menjadi gambar latar monitor, tetap saja tidak ada gunanya. Lelaki kita tetap bosan hingga ubun-ubun.
Peringatan hari puisi yang dilakukan setiap hari makin membuat gairahnya hilang. Dia tahu apa yang mesti dilakukan di pagi ini –meskipun sekarang telah pukul sepuluh.
Satu-satunya yang bergairah yang paling mungkin dilakukan sesuai kemampuannya untuk mengusir bosan adalah meracik kopi, dia akan mendiamkan kopi itu di sebelah monitor, kemudian berjalan keluar kandang, menyatroni kandang lain dan berharap ada manusia pada hari Sabtu di kampus itu. 
Jika ketemu orang merokok, dia buru-buru mendatanginya, merangkul pundaknya, dan sedikit mengancam hendak membunuhnya jika tidak memberikan barang sebatang saja. Tentu saja itu adalah candaan, tapi orang-orang di sana keburu percaya, bahwa saban bangun tidur, lelaki ini akan menjadi manusia paling purba jika tidak merokok.
Tapi pagi itu –meskipun sekarang telah pukul sepuluh lebih—seorang lelaki lain berani membantahnya.
“Jika kau ingin rokok, maka aku punya syarat!”
Lelaki kita menunjukkan raut tidak setuju. Namun buru-buru lelaki itu melanjutkan, “Jangankan sebatang, dua bungkus bakal kuberikan!”
Lelaki kita pergi. Dia menyadari bahwa harga diri lebih penting daripada sebatang rokok. Tanpa mendengar satu syarat yang belum disampaikan.
*
Perempuan itu berhenti menulis.
“Kau masih melanjutkan naskah sampah itu?” tanya Riris.
Wati tersenyum, “Ini bukan naskah sampah, kau tahu? Ini cerita sedih manusia.”
“Sekali-kali bikin yang beda. Cerita sedihmu bahkan tidak membuat kambing peliharaan bapak menangis.”
“Cerita sedih manusia! Bukan cerita sedih kambing!”
Riris selalu memandang sebelah mata apapun yang dikerjakan adiknya, Wati. Setelah pergi ke dapur, dia makan di kamar, mendengarkan musik dengan suara dikeraskan.
Saat-saat seperti itu, Wati sudah benar-benar terganggu. Dia akan pergi. Bukan berarti dia tidak berani menegur kakaknya, dia pernah melakukannya, dan perlakuan kakaknya pada besoknya makin tidak manusiawi. 
Pukul tujuh pagi dan musik di kamar Riris mirip dentum meriam. Wati menggedor pintu kamar lebih keras. Pintu dibuka, tanpa menunggu aba-aba, Riris melemparkan air kencing di plastik bening, dan sialnya pecah di wajah Wati.
Wati makin marah dan dia berniat membunuh kakaknya. Tapi pikiran itu adalah hal paling bodoh yang paling terakhir yang akan dilakukannya. 
Sejak pagi itu dia tidak pernah menegur kakaknya karena polusi suara dari kamar. Dia memilih pergi, seperti pagi ini. Dan jika pergi, satu-satunya tujuannya adalah kampus. Tempat di mana tokoh lelaki yang belum diberi nama itu lahir, hidup, dan menjalani kehidupan paling menyedihkan.
Bagian ketiga dari naskahnya telah selesai. Dia berniat untuk memberikannya kepada seorang teman untuk dibaca, jika untung, dia akan mendapat caci maki yang membangun, jika sial, naskahnya hanya akan berakhir di tong sampah.
Temannya keras kepala. Namanya Asri. Juga galak. Dan alpa norma-norma sosial. Dari Asri pula Wati tahu merek minuman keras, harga rokok, dan semua rasanya. Dia juga tahu bahwa mabuk dan merokok bisa menghilangkan sebentar kejahatan kakaknya kepadanya.
“Kakakmu berulah lagi, Dek?”
Asri memanggil ‘Dek’ untuk merendahkannya. Wati tidak menjawab. Dia membuka laptop dan gambar latar persawahan hijau ada juga di monitornya.
“Punya rokok?”
Wati menggeleng.
“Ini.”
Beda dengan Wati, Asri telah menulis banyak tulisan. Banyak yang dimuat di surat kabar lokal, sebagian terpampang di halaman surat kabar nasional. Sudah menerbitkan beberapa buku, dan sialnya uang hasil penjualannya selalu habis menjadi asap atau igauan ketika mabuk.
“Aku merencakan membunuh kakakku.”
“Hmm….”
“Akan kubunuh, kubantai, menjadi tokoh paling menyebalkan di dunia dalam tulisan ini. Dengan kehidupan paling menyedihkan. Dan mati dengan cara menyakitkan dan amat pelan. Dia pantas mendapatkannya. Dan yang pasti, aku tidak akan menggunakan nama samaran! Eh, mana tadi rokokmu, Dek?”
“Sialan kau Dek!”
“Kenapa? Tidak terima? Mau duel?!”
“Berdiri kau Dek!”
“Maju sini Dek!”
Pertarungan mereka instan saja. Asri menangis dan tidak berdiri lagi ketika kepalan tangan kanan Wati mengenai hidungnya. Hendak Wati menginjak kepalanya, tapi Asri memohon ampun terus-menerus.
*
Pada kampus yang sama-sama menyedihkan dengan kehidupannya, lelaki itu tidur siang. Berencana untuk pulang. Menemui ibunya yang menanti kelulusan di rumah. Juga para tetangganya yang seolah-olah mengharapkan kehidupan yang baik untuknya. Padahal para tetangga itu, akan lebih bahagia jika dirinya dalam keadaan gagal paling buruk. Ya, ya, setidaknya itu yang dia pikirkan.
Sementara hari terus berjalan. Tidak menunggu seorang lelaki yang dikoyak kebosanan. Dan burung-burung tetap berbunyi di dalam sangkar. Dan hujan tetap turun pada sore hari. Dan lelaki itu membayangkan ada seorang yang lain, yang sedang menulis tentang dirinya, tentang kehidupannya yang dihasilkan dari naskah sampah.
Dia tiba-tiba membayangkan bertemu seorang perempuan yang memperkenalkan diri sebagai Wati. Wajahnya bisa dia sandingkan dengan Srikandi, dan hidung dan payudara dan pantatnya mancung, dan kulitnya putih, dan rambutnya lurus, dan persis dengan gambaran cantik yang diproduksi media pada iklan-iklan sabun dan sampo.
Perempuan itu dikhayalkan olehnya juga berada di kampus ini. Kejadian menyedihkan yang menimpa dirinya tidak lain adalah berasal dari apa yang dituliskan perempuan itu. 
“Apa ini yang dinamakan kebosanan?” bisiknya, “Kau bisa berimajinasi bahwa kegagalan hidup adalah hasil dari ulah orang lain. Kau bisa menciptakan tokoh imajinasi yang bisa kau salahkan. Dan cerita itu bisa kau gunakan sebagai alasan jika ada yang bertanya.”
Lelaki kita terpaku. Imajinasinya sudah tidak bisa menghibur. Dia butuh imajinasi lain untuk memunculkan gairah baru agar dirinya tidak jadi memutuskan untuk berlari ke jalan raya dan merelakan badan dihantam kendaraan besar. Atau berlari ke lantai tujuh di gedung paling tinggi di kampus ini dan meloncat dengan kepala di bawah. Atau menelan lima bungkus racun tikus yang dia dapat dari warung sebelah kanan gerbang keluar.
“Pasti ada yang salah,” bisiknya lagi. “Semua ini terjadi karena presiden dan orang-orang berkuasa di ibukota sana! Juga orang-orang di kantor-kantor pemerintahan. Dan aku hanya sebagai korban.”
Lelaki kita geleng-geleng. Tampaknya imajinasinya barusan sudah terlalu banyak dipakai orang-orang.
“Aku mesti menemukan sesuatu!” pacunya.
Bruuuaakk!!!
Seseorang mendobrak pintu. Seorang perempuan setengah baya, berlari menuju dirinya yang masih terpaku mencari imajinasi baru, sialnya, perempuan itu membawa pisau dapur. 
“MATI SAJAA!!! SAMPAH!!!”
Dalam bayang-bayang paling mengerikan untuk membayangkan apa yang terjadi berikutnya, lelaki kita bergumam, “Ibu?”
Hari sudah malam. Azan Isya baru saja kelar. Wajahnya pucat dan basah karena keringat, “Mimpi berengsek!!!”
Sejak saat itu, agenda tidur siangnya menjadi berantakan. Dia khawatir akan bermimpi serupa. Meski pada mimpi dan imajinasinya juga tidak lebih baik dari kenyataan hidupnya. Dan kopi yang dibuatnya pagi tadi sama sekali tidak tersentuh. //
Seorang Lelaki, Dua Perempuan, dan Imajinasi yang Dipaksa Datang - SELOKI
Pixabay.com/www_slon_pics

Tinggalkan Komentar

2 Comments

  1. Replies
    1. Ah masa? Tapi ngomong-ngomong bukumu sudah terbit lagi di penerbit besar?

      Delete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)