Perempuan yang Menjadi Laki-Laki

Ponselnya terletak di sebelah kopi. Ibunya telah berangkat ke pasar. Dia mengambil kopi bekas ibunya, juga sebatang rokok kakak lelakinya.
Dia berada di rumah sendirian. Tidak mengerjakan apapun apalagi skripsi, sebab skripsi hanya momok di bawah celana dalam. Dia bersantai, di meja goyang bekas neneknya, di sebelah meja tempat menaruh kopi. Diapitnya rokok itu. Asapnya terbang ke ruang tanpa makna.
Seorang perempuan yang benar-benar menikmati keperempuanannya sedang bersantai. Dia akan menghabiskan rokok sebelum ibunya pulang.
Kakak lelakinya kembali dari memancing, dia tidak akan menyadari ada aroma rokok di rumah. Hidung lelaki itu telah tebal dengan upil. Jangankan asap rokok, aroma tahi basi di ujung hidung pun akan kesulitan membangkitkan kesadaran penciumannya.
"Dapat ikan?"
"Dapat. Banyak. Mau kumasak. Buat makan sore nanti," kata lelaki itu gembira.
Sofiana tahu benar kakaknya mendapat sekantong ikan. Terlihat jelas ketika ditenteng. Namun demi menyenangkan hati kakaknya, dia akan bertanya. Ya, ya, meskipun tidak penting sama sekali baginya.
Tidak akan ada sore di rumah dengan dia di sana. Sofiana telah bersiap menuju kota lain. Tanpa mandi, tanpa dandan, dan tanpa memiliki uang.
Dia berjalan ke almari, kita tidak akan menemukan apapun di sana selain celana dan kaus. Sofiana tidak memiliki rok ataupun kemeja, apalagi yang berwarna merah muda. Perempuan itu berkeyakinan bahwa dirinya lahir tanpa jenis kelamin, dan label perempuan hanyalah pemberian orang-orang di sekitarnya, dan dia bisa juga mencari label laki-laki.
*
"Kamu di mana?" pesan sang perempuan.
"Aku di kampus," jawab si lelaki.
"Aku hendak ke sana," pesan sang perempuan lagi.
"Aku mau keluar. Jangan ke sini," jawab si lelaki lagi.
"Kepalaku mau meledak di rumah," pesan sang perempuan.
"Sabar," jawab si lelaki.
"Bangsat. Sabar terus sampai mati. Temani aku mabuk malam ini," pesan sang perempuan.
"Aku nggak punya uang," jawab si lelaki.
"Temani saja, Bangsat! Mau nggak?" pesan sang perempuan lagi-lagi.
"Mau saja," jawab si lelaki lagi-lagi.
"Kutunggu di kontrakan saja," pesan sang perempuan.
"Oke," jawab si lelaki.
*
Sore itu adalah ketika mereka kali terakhir berkirim pesan. Nyatanya Sofiana tidak memiliki teman. Ini kedengaran mustahil, tapi begitulah kenyataannya. Dia tidak mampu menahan keteguhan hatinya sewaktu bersosialisasi dengan manusia lainnya, sehingga siapapun yang ditemuinya, akan menjauh dan tidak pernah ramah lagi jika bertemu dengannya.
Untung saja perempuan itu memiliki rasa tidak peduli yang kukuh. Hidup tanpa teman nyatanya benar-benar kesepian. Dia berjalan ke lantai enam gedung kampus, dan di sanalah seorang lelaki hendak bunuh diri.
Sofiana berlari mendekat sambil berkata keras, "GOBLOOOKKK!!!"
Dia berhasil meraih tangan lelaki itu, dia telungkup, tidak peduli susunya yang sudah tumbuh penyet kena lantai, dia menarik si lelaki. Menampar wajahnya dua kali pada bagian kiri, dan tetap berkata, "Goblok!" berkali-kali pula.
Lelaki yang telah lesu mirip penis selesai ejakulasi enam kali itu merunduk saja. Tidak marah ditampari dan dimaki seorang perempuan.
Saat itulah, Sofiana berkata, "Kau goblok! Seberapa berat bebanmu hingga kau begini goblok! Dasar goblok! Aku saja yang menjadi laki-laki, dan kau menjadi perempuan!"
Lelaki yang lesu bersemangat kembali. Dia memandang Sofiana sebagai malaikat penolong, meskipun dia pernah mendengar bahwa malaikat tiada memiliki kelamin. Lelaki itu tidak peduli, dia tetap menganggap Sofiana sebagai malaikat.
"Benarkan?" matanya berbinar.
"Tentu saja!" jawab Sofiana mantab.
"Terima kasih. Terima kasih," kata lelaki itu tetap berbinar. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi."
"Benarkah?" tanya Sofiana.
"Tentu saja!" jawab lelaki itu mantab.
"Maka jadilah temanku!"
Mereka berjabat tangan. Wajah keduanya jadi bersemangat. Si lelaki menjadi kenal rokok dari Sofiana, dan sang perempuan memperkenalkan lainnya. Termasuk jenis rok, hingga merek minuman keras. Mereka bersepakat bertukar kelamin.
*
Setelah sebulan berteman. Si lelaki benar-benar tidak meninggalkan sang perempuan. Ditemaninya mendengarkan kala Sofiana mabuk dan bercerita panjang sekali. Si lelaki hanya menyentuh rokok, tanpa menyentuh hal lain, termasuk minuman.
Seperti saat ini.
Sofiana tidak pernah membutuhkan ponsel. Ketika hendak menemui si lelaki pada tempat yang tentukan tadi, dia mampir ke toko ponsel, bukan untuk membeli, melainkan menjual. Uang hasil penjualan itu dibelikan anggur dua botol dan dua bungkus rokok dan sekantong kacang dan sebotol kecil krim anti nyamuk dan pertalite sepuluh ribu.
"Tenang, aku bisa membeli hape biasa dengan uang sisa," katanya pada si lelaki ketika bertemu.
Mereka tetap melanjutkan berganti peran, tanpa mempengaruhi presiden mana yang terpilih untuk negeri ini. //

Image by ErikaWittlieb from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments