Kacamata

Kau mesti bersyukur. Teman-temanmu yang lain telah menggunakan kacamata. Tapi kau tidak, matamu sehat, meskipun kau gunakan untuk melakukan kesibukan digital tiada arti.
Kacamata - SELOKI.COM
Image by Free-Photos from Pixabay

Saya perlu berpesan, ini mungkin agak menyinggung. Jadi begini, saya sebenarnya ingin memberi tahu saat itu juga, bahwa kau salah menulis dalam pesanmu untuk kata "kacamata" dengan "kaca mata".
Sepele memang, tapi saya merasa terganggu. Sekali lagi, jangan tersinggung.
Dahulu, waktu masih kanak-kanak, saat kita masih belum kenal perempuan, kau pernah mengatakan bahwa perempuan memiliki dua kacamata.
Saya baru paham setelah usia nyaris dua puluh. Saya kagum, pada usia sekolah dasar, dari mana kau dapati pengetahuan langka yang muskil disampaikan dalam sekolah itu.
Kacamata - SELOKI.COM
Dokumen pribadi. Diakses pada Sabtu 8 Juni 2019, 22:10
Selain kata "kacamata" ada satu lagi yang masih mengganggu pikiran saya. Tentang ulang tahun kekasihmu yang jatuh pada besok itu.
Tampaknya memang telah kau jelajahi kacamata milik perempuan sejak sekolah dasar dulu, hingga sekarang. Buktinya, jika seluruh mantan kekasihmu dikumpulkan, saya yakin jumlahnya cukup untuk membuat sebuah liga sepak bola.
Dengan begitu kelam rekam jejakmu tentang perempuan, sangat aneh jika kau masih bingung pada hal sesepele itu --tentang ulang tahun kekasihmu yang jatuh pada besok itu.
Saya sarankan --ini juga saran yang saya sarankan pada tahun lalu: belilah dua bungkus kondom, satu untuk kekasihmu, satu lagi untuk jajan di tempat biasanya.
Aneh ini masih belum tuntas, kau tidak tertawa seperti sebelum-belumnya terhadap saran itu. Kau murung, kemudian duduk, dan kedua tanganmu memegangi kepala seakan hendak saya tendang. Lambat-lambat bibirmu yang kering bergerak dan mengatakan: aku ingin menikahinya.
Selesai pemutaran film di pos satpam, kau pergi menuju swalayan.
Seperti saat datang, kau buru-buru saat keluar.
Saya sudah menduga bahwa kau mengatakan ingin menikah hanyalah candaan paling bengal yang sialnya saya percaya. Tentu saja saya buru-buru mendekat.
Pada dirimu yang berbatas pohon sengon, saya melihat setangkai bunga di sepeda motor. Juga dua batang besar cokelat dari swalayan barusan. Saya tidak jadi menyapa. Saya melipir pergi.
Ternyata matamu benar-benar sehat, sejujurnya saya iri, saya tidak bisa melihat perempuan mana yang baik, dan mana yang mendatangkan bencana bagi hidup saya.
Kau teman saya yang baik, adakah kau mau meminjamkan kacamata untukku, dan melontarkan lelucon tentang kacamata perempuan seperti dahulu?

Post a Comment

0 Comments