Gelisah

"Dia ternyata menyenangkan. Kemarin dia ke rumahku, dia humoris, padahal kukira --seperti kebanyakan lelaki kaya-- tidak paham dengan humor kita. Dia paham dan kita menghabiskan sekian jam di malam itu," ucap seorang perempuan pada kekasihnya.
"Apa kau mengundangnya?"
"Sewajarnya. Aku hanya menanyakan apa tidak ke rumahku."
"Kau mengharapkannya."
"Tidak terlalu."
Perjalan itu telah diliputi awan murung. Sang lelaki yang menganggur dan menyebalkan menyadari bahwa dirinya tidak terlampau penting bagi kekasihnya.
Kau kemudian diam. Berpikir sejenak agar dirimu tidak makin merusak segalanya. Sehingga kau simpan sendiri rasa sebal tersebut.
Tentang bagaimana lelaki yang menganggur dan menyebalkan itu bisa memiliki perempuan sebagai kekasihnya adalah hal lain.
Awan murung nyaris jadi badai. Dibukanya pesan-pesan perempuannya. Ya, ya, Pesan manis dari laki-laki yang dibalas manis pula oleh perempuan adalah hal baik.
Namun jika diketahui kekasih salah satunya daripadanya, maka sama saja dengan sebuah bom perusak yang diam-diam mereduksi kepercayaan.
Gelisah - SELOKI
Image by Steve Buissinne from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments