Belum Ada Judul

Bagaimana kabar puwasamu? Sudah puwasa berapa kali? Apakah sepi?
Baik, baik, saya tahu permasalahannya: waktu terlampau cepat memakan segala, ingatan, kenangan, bahkan uang. Dan kau ingin --sekali lagi-- memikirkan cara bunuh diri paling menyenangkan?
Dengan mabuk? Tapi kau tahu sendiri, sebotol yang hanya 65 ribu itu kesulitan untuk dompetmu.
Dengan terjun dari gedung lantai 6? Kau telah bersepakat untuk mati diam-diam. Lagian satu-satunya gedung berlantai enam yang kau tahu ada di dalam kampusmu, dan sialnya, di sana ada Lembaga Pers Mahasiswa yang siap menjadikanmu terkenal.
Kau perlu duduk di sebelah buku terbitan Dian Rakyat, ya, saya tahu, buku di sebelahmu adalah buku lawas.
Kau pasti ingat kali pertama membaca halaman depan, kau langsung teringat pada tulisan idolamu yang kau anggap bukan manusia biyasa itu, Pramoedya Ananta Toer.
Ambillah buku itu, baca judulnya, Anak Perawan di Sarang Penyamun.
Memang benar, saya tahu apa yang kau suka, tentang leher, dada, dan selangkangan, kan? Kau masih suka mengeksploitasi tubuh perempuan!
Jika tidak di dunia nyata, barangkali tentu saja di dalam pikiranmu yang kau anggap sebagai ruang tanpa aturan --bahkan tanpa Tuhan.
Cukup ambil, singkirkan, sebab kau tak akan mau membaca dalam keadaan begini. Saya juga tahu kisah hidupmu selama awal puwasa hingga nyaris berakhir ini. Yang salah satu perkumpulan di Tulungagung malah sudah merayakan hari raya Idul Fitri.
Kau tidak akan tertarik dengan hal-hal demikian, juga dengan buka bersama. Beda dengan seorang perempuan yang telah dekat cukup lama dengamu. Kau, sudah menolak --kira-kira-- 5 ajakan buka bersama dari grup-grup.
Sekarang kau hanya perlu menunggu sebentar azan isya di musala itu berakhir.
Tangan kananmu mesti merogoh ponsel, sedang tangan kirimu pasti merogoh sesuatu di antara kakimu.
Tapi kau bahkan terlalu malas untuk melakukan apa-apa. Kau sibuk tidak melakukan apa-apa. Kau juga lelah, teramat lelah, karena tidak melakukan apa-apa.
Ponselmu kau letakkan kembali. Kemarin kau nyaris membanting ponsel itu karena pesan seorang teman yang teramat menjengkelkan. Tapi kau buru-buru mengurungkan keinginan itu, sebab menyadari pesanmu selalu lebih menjengkelkan.
Kau bernapas. Kau masih hidup. Kau ambil dalam-dalam udara yang gratis ini, dan kau embuskan kembali lewat mulut. Begitu saja sudah membuatmu kelelahan.
Besok adalah hari raya idul fitri. Kau jahanam. Tidak merasakan sedikit pun kebahagiaan. Tapi kau firdaus juga, menerima segala jahanammu.
Seraya kau ulangi bernapas, kau merapalkan mantra: semoga seluruh makhluk damai dan bahagia.
Belum Ada Judul - seloki.com
Image by Jakub Luksch from Pixabay

Post a Comment

0 Comments