Apa Kau Baik-Baik Saja?

Sebenarnya saya tidak mau bertanya padamu, tentang keadaan, atau tentang yang lain menyangkut kehidupanmu.
Berhubung saya datang tidak sendiri, saya akan bertanya seperti tadi, "Apakah kau baik-baik saja?"
Ya, meski saya sudah tahu, tidak ada sesuatu yang baik selama beberapa minggu ini dalam hidupmu. Kau sedang sinting, berjalan dari trotoar sebelah barat toko emas, melewati lampu merah yang sedang menyala hijau, dan acuh terhadap klakson mobil dan motor, dan menyesal mengapa tidak ada yang menabrakmu saat itu.
Saya tahu benar, hidupmu telah tidak ada arti, itu menurutmu. Sehingga kau begitu saja mencoba melukai diri, berharap mendapat uang ganti rugi, atau penutup urusan polisi jika mati, dan uang tersebut akan kau gunakan untuk membeli kue di toko sebelah timur lampu merah --tentu saja, kalau kau belum mampus.
Ibumu telah menunggu lama, kau yang seorang laki-laki mesti cari kerja. Tidak mudah cari kerja yang halal di kota ini, seperti pesan ibumu setiap kali bertemu.
Kau ternyata tidak jadi pulang. Meminta menginap di rumah seorang teman.
Tanpa kau sadari, malam yang mestinya diam dan sunyi, menjadi huru-hara petasan dan kembang api, juga teriakan menang nyaris semua orang di kota itu. Kau intip sedikit keramaian di jalan raya dari jendela, kau benar-benar merasa terganggu, dan kau mengutuk lagi, mengapa tadi siang tidak ada kendaraan yang haus akan darahmu.
Ponsel yang telah mati karena kehabisan daya selama sembilan hari itu menyala kembali. Temanmu yang baik hati meminjamkan pengisi daya, memberi sepiring nasi dengan lauk ayam, dan air putih sebotol.
Kau habisi dulu makanan itu, saya tahu kau lebih kuat dari ponselmu, kau telah menahan lapar sejak sembilan hari, tapi kau masih mampu berjalan. Air dari tempat wudlu di surau-surau sepanjang jalan pulang menyambung nyawamu.
"Hai, Kawan, apakah kau baik-baik saja?" saya bertanya sekali lagi.
Kau memandang saya geram. Kemudian memandang teman saya dengan senyuman. Kau menjawab, "Tentu saja, Kawan. Hidup ini mesti disyukuri, jika ada masalah mesti sabar, orang pintar dulu menyebut bahwa hidup seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Benar, kan? Dan kita mesti tetap bersabar sambil berusaha serta bedoa untuk membalikkan roda tersebut."
Saya merasa amat bersalah padamu. Sejak dahulu, sejak sekolah dasar, kau memanglah pemberi motivasi buat teman-teman lainnya. Namun alpa menguatkan diri sendiri.
Jika kau masih hidup hari ini, artinya belum ada cara bunuh diri yang berhasil.
Mestinya kau sadar dulu, jangan ambil langkah itu, Gusti mboten sare, Dia pasti punya alasan khusus memperpanjang nyawamu.
Kau pulang pagi-pagi benar. Temanmu yang kau tumpangi rumahnya itu masih tidur di depan televisi, dia semalam juga ikut merayakan hari kemenangan. Sempat juga mengajakmu yang berada di kamar, kau segera menolak dengan cara paling halus yang kau tahu. "Aku mau istirahat, kalau boleh, Kawan."
Temanmu segera pergi karena tidak sabar berkumpul dengan teman-temannya. Kau merasa bisa mati secara pelan-pelan dan menyakitkan jika berada di tengah keramaian itu.
Saya kemudian pamit pulang. Teman saya yang dari tadi bermain ponsel dan media sosial sebenarnya tidak peduli dengan apa yang kita bicarakan. Tapi saya senang melihatmu masih hidup, masih memakai topeng itu, dan belum menjadi berengsek yang sebenarnya seperti saya.
Saya tidak jadi makan kerupuk yang digoreng ibumu, yang kau hidangkan di meja depan kita pada hari raya pertama ini. Kau tentunya gagal untuk pulang membawa kue. Kami berdua menjabat tangan ibumu di kening, dan menjabat tanganmu seperti biasa.
"Hari ini masih pertama, masih ada enam hari lagi, jangan buru-buru mati," bisik saya padamu.
Kau manggut-manggut, tanpa saya sadari, kau mengantar kami berdua hingga depan rumah. Dan melontarkan satu pertanyaan yang membuat saya berpikir hingga sekarang, "Apa kau baik-baik saja?"
//
img src: pixabay

Post a Comment

0 Comments