Tarawih Pertama yang Memunculkan Kembali Ingatan-Ingatan Indah Masa Dahulu

Tarawih Pertama yang Memunculkan Kembali Ingatan-Ingatan Indah Masa Dahulu
Image by OpenClipart-Vectors from Pixabay

Saya kasihan padamu. Tentunya pada kehidupanmu yang amat menyedihkan sekarang.
Masih kau ingat? Ketika waktu yang sama dengan sekarang, hari pertama salat tawarih? Kau berlari dengan sarung kebesaran milik bapakmu setelah salat magrib untuk menuju rumah seorang teman. Dan kau bersama empat temanmu akan bermain petak umpet sebelum azan isya di masjid terdengar. Bukankah itu saat-saat yang menyenangkan?
Anak-anak itu, teman-temanmu, masih polos dan baik hatinya. Mereka lebih suka meributkan tentang kembang api, petasan, tempat bersembunyi, karet gelang, kelereng, atau memancing, daripada meributkan hal yang tanpa inti yang kau ributkan sekarang.
Usiamu telah lebih dua puluh. Hei, kawan, itu bukan lagi sedikit. Barangkali telah kau gunakan seperempat dari jatah usia. Dan kau sekarang masih menyedihkan.
Mestinya kau keluar, menghirup udara malam di bulan suci, tapi tidak, kau dilupakan suci, dilupakan malam, dan dilupakan keluargamu sendiri.
Sekarang kau masih di kamar melanjutkan menulis cerita bodohmu, sedang tarawih telah sampai pada empat salam. Kau tidak punya teman, apalagi kekasih, apalagi teman lagi. Bahkan dirimu sendiri enggan berteman denganmu.
Lagi-lagi kau ingat kisah lain, tentang masa kecilmu, tentunya di waktu yang sama dengan sekarang, ketika kau masih bocah belaka. Selesai tarawih kau akan memukul bedug dengan irama, itu waktu yang menyenangkan, tentunya. Pemukul bedug hanya ada dua, dan siapa yang berhasil memegangnya, dianggap sebagai bocah yang beruntung.
Kau tersenyum lagi di kamar. Memanglah, kenangan itu indah, dan kau masih mengingatnya, dan kau masih bertahan hidup karenanya.
Setelah kelar memukul bedug, kau akan masuk ke dalam masjid. Menata meja panjang. Mengambil beberapa Quran. Menyiapkan pengeras suara. Dan memanggil bocah-bocah lain untuk segera berkumpul dan mengaji.
Suaramu akan melengking, dan sampai pada rumah orang tuamu, dan kau akan cerita seberapa banyak yang telah kau baca. Dan orang tuamu akan tertawa, dan mereka akan senang, dan sahur malam ini adalah makanan yang enak.
Indah! Indah! Indah! Kau mestinya berterima kasih kepada kenangan. Tentunya kenangan tentang masa kecil, bukan kenangan bersama perempuan yang telah kau percayai sebagai Hawa dan kau adalah Adamnya. Namun sebentar hitungan waktu, kalian berdua menjadi asing, dan kau makin hina dan tenggelam dalam kubangan menyedihkan.
Ayolah, kau harus membuka kembali Quran, membuka juga hatimu yang tulus. Jangan dulu kau kubur semuanya. Kau harus berhenti melihat film porno, merapikan rambut gondrongmu, dan berpakaian sopan dengan sarung dan koko, untuk menggantikan jins bolong dan kaus oblong.
Tidak jarang kau akan tidur di masjid menunggu waktu tengah malam. Sebelum salat malam dan bersiap untuk meronda. Itu bagian yang asyik, banyak bocah-bocah sepertimu yang akan ikut, membawa kentongan dan drum, dan sesuatu yang berisik lainnya, menyusuri jalan desa yang gelap dan sepi, dan kalian sibak dengan obor dan berisik. Membuat gaduh yang tidak akan dianggap pengacau.
Sekarang kau hanya pengacau, kata-kata dari mulutmu adalah racun belaka. Sudah ratusan, bahkan ribuan orang yang sakit hatinya gara-gara mulutmu. Kau harus belajar diam. Menjauhi keramaian. Meletakkan media sosial. Pura-pura mati.
Kau akan pulang setelah salat subuh berjemaah. Tidur sebentar. Menunggu ibumu membangunkan lembut pada pukul enam. Agar kau segera bersiap untuk sekolah.
Hari-hari yang menyenangkan itu akan terus membuatmu hidup. Kau mesti meletakkan rokok yang tidak pernah berhenti bertengger di bibirmu, dulu kau belum tahu apa itu rokok, apalagi bir dan anggur, apalagi perempuan dengan tetek dan memeknya.
Berapa jumlah puasamu pada tahun kemarin, dan kemarinnya lagi? Saya tidak akan bertanya berapa jumlah yang bolong, sebab akan selalu lebih banyak. Juga berapa jumlah rumah kerabat, tetangga, atau teman yang kau kunjungi pada hari raya? Oh, maafkan saya, kau tidak memiliki teman. Tentu juga tak akan ada yang mengunjungimu, apalagi sekarang, dalam persembunyian dan berdialog dengan imajinasi.
Namun, kawan, kau bisa berteman dengan saya. Kita bisa masuk ke surga atau neraka sesuka kita. Meski saya hanyalah imajinasimu semata. Setidaknya, saya bisa mengantarkan ingatan-ingatan indah masa kecilmu yang menyenangkan, merangkainya dengan bunga pada sisi-sisinya, dan kau tertawa setelahnya.
Bagaimana? Ini waktu yang sama, hari pertama salat tarawih. Dan kehidupanmu yang terbalik dan menyedihkan. //

Post a Comment

0 Comments