Ulasan Film Samurai X yang Separuh Drama: Rurouni Kenshin

Ulasan Film Samurai X yang Separuh Drama: Rurouni Kenshin
Dokumen pribadi

Sampai setengah jam menonton, saya menahan haru. Himura Kenshin (jantung pedang) yang sebenarnya adalah Battousai sang pembantai yang melegenda, meninggalkan kesukaan membunuhnya.
Film rilis pada 2012. Bercerita mengenai samurai dan tentunya dengan katananya. Dengan seting waktu di Jepang pada masa transisi, samurai telah dianggap hanya bisa membunuh dan jumlah para samurai nyaris hilang. Mereka tidak memiliki pekerjaan. Serta munculnya senjata baru: senapan angina.
Orang yang ‘memelihara’ samurai-samurai ini disebut sebagai Bos Besar, nama aslinya, Takeda Kanryu, yang sebenarnya adalah pengedar opium.
Bagaimana pun, hidup samurai sebagai pendekar pedang masih ada. Ada sekolah pelatihan seni pedang untuk melindungi diri yang muridnya hanya tinggal 1 saja. Kenshin yang mengembara melihat fenomena ini, dia mulai membantu Kaoru, perempuan pemilik sekolah tersebut.
Sebenarnya konflik yang disajikan dalam film tidak sedikit. Masalah rumit sejarah yang dimanfaatkan orang tertentu sehingga pada zaman tersebut Battousai dikenal kejam. Padahal pada pertempuran sebelumnya, dia hanya melindungi diri dari penyerangan.
Nama Battousai yang pembantai dipakai orang yang bangkit dari kematian. Dia bekerja pada Bos Besar sebagai tangan kanan, membantai siapa saja yang menghalangi, tidak luput kantor polisi dan menghabisi semua polisi di sana. Setiap membunuh orang, Battousai gadungan ini meninggalkan kertas dengan tanda tangan, bahwa dirinyalah yang bertanggung jawab atas kematian orang bersangkutan.
Battousai gadungan ini pernah berjumpa dengan Kenshin, yang adalah Battousai bukan gadungan. Jurus meningkatkan ketakutan lawan yang dimiliki Battousai gadungan tidak berdampak apa-apa pada Kenshin. Jelas, yang gadungan mana mungkin bisa menyamai yang asli, ya toh?
Gara-gara membantu menyelamatkan sekolah Kaoru yang diserang gerombolan preman, Kenshin ditanggap kepolisian. Di sana dia bertemu dengan seorang kepala bagian detektif, yang masih memegang prinsip samurai sejati.
Detektif bernama Fujita Goro itu tersenyum kala melihat bekas luka salib di pipi kiri Kenshin dan langsung mengenalinya sebagai Battousai sang pembantai. Dia kemudian mengeluarkan Kenshin dari bui. Percekapan singkat mereka didengarkan oleh seorang lelaki dengan ikat kepala merah, dan baju putih, yang sama-sama berada di sel. Lelaki belakangan akan bersama Kenshin untuk menghancurkan penjualan opium karena teman mereka ditahan Kanryu,
Kenshin diajak bertemu Tuan Yamagata dan diminta untuk meminjamkan kekuatannya menghentikan penyebaran opium. Sayangnya Kenshin menolak.
Film ini saya kira lebih terkesan membuat haru. Selain ketika membantu sekolah, dan Kaoru tahu bahwa Kenshin adalah Battousai sang pembantai, juga ketika Kenshin dibiarkan pergi dari bui, saat itu dia dijembut eh dijemput Kaoru.
“Ikut denganku,” kata Kaoru sambil memberikan payung. “Karena kau telah membantuku.”
“Aku adalah ‘sang pembantai’,” jawab Kenshin sambil melipir.
“Aku tak kenal siapa dia. Orang yang kutemui adalah pengembara bernama Kenshin. Semua orang punya masa lalu yang ingin dihapus.”
Kita akan menjumpai kesamaan dengan animenya. Kenshin setelah dilepaskan dari penjara, diberi baju ganti berwarna merah, dengan pedang miliknya yang bermata terbalik, persis versi anime. Selain Kaoru, ada bocah bandel bernama Myojin Yahiko, dan perempuan yang lolos dari kejaran Battousai gadungan, Takani Megumi.
Sebenarnya Battosai gadungan itu juga dipelihara oleh Takeda Kanryu. Bos Besar meminta agar Kenshin mau menjadi pengawalnya dengan uang 10x lipat. Jelas, Kenshin menolak. Namun tiba-tiba, pria yang menguping di sel, dengan ikat kepala merah dan baju putih, yang bernama Sagara Sanosuke muncul. Ciri khasnya adalah senjata pedang raksasa pembunuh kuda bernama Zanbato.
Kejadian demi kejadian, bencana demi bencana, bergiliran dilihat Kenshin. Semua diakibatkan oleh Takeda Kanryu. Saat itu Kenshin mulai berpikir keras. Kontemplasinya menghasilkan keputusan, bahwa dirinya bersama Sanosuke hendak menyerang rumah Kanryu dengan 250 penjaga. Apalagi ketika Megumi hilang.
Kenshin dan Sanosuke berhasil mengalahkan 250 pengawal, dan tiga orang pengawal elit dari Kanryu. Bagian menyebalkannya, tak satupun dari sekian ratus orang itu yang dibunuh oleh mereka berdua.
Konfliknya bertumpuk. Setelah berhasil membebaskan Megumi, Battousai gadungan mencoba memenuhi ambisinya melumuri pedangnya dengan darah Kenshin sang pembantai. Sebenarnya itu adalah pedang Kenshin dahulu yang ditinggalkan setelah peperangan.
Usaha Battousai gadungan dengan membuat Kaoru menjadi sandera. Perempuan pemilik sekolahan itu tampak susah payah. Begitulah Battousai gadungan, mestinya di ngentod dulu, tapi tidak, itu pikiran orang ngacengan, dia hanya culik Kouru agar Kenshin datang dengan ambisi membunuh seperti dahulu.
Tanpa menjadi pembantai seperti dulu, Kenshin dengan jurus-jurusnya mampu mengalahkan Battousai gadungan. Akhir cerita ditutup dengan ceramah Kaoru yang lama dan membosankan ketika diikat tangan dan kakinya, hal itu makin membosankan saat didengarkan dengan seksama dan dalam tempo yang lama sekali oleh Kenshin.
Untung saja Battousai gadungan membunuh dirinya sendiri. 
“Sudah sifat manusia untuk membunuh. Aku mungkin tidak bicara dengan orang yang dulu lagi, tapi pembunuh tetaplah pembunuh,…, sampai jumpa di tempat paling dalam di neraka.”
Ya, ya, kebosanan itu terobati. Akhir yang menarik, Kenshin tetap kukuh dengan sumpah tidak membunuh lagi dan Kaoru bebas dari kutukan jurus genjutsu Battosai gadungan.
“Saat orang membunuh, ada dendam yang lahir. Biarkan saja orang bunuh diri.” (Kenshin)
Ketertarikan tiap orang akan film berbeda, jika saya akan lebih suka versi animenya, yang memiliki efek jurus-jurus, lebih hiperbola, dan mengesankan, bagi saya malah terkesan seru. Namun bagi yang suka film separuh drama separuh pembunuhan yang menampakkan detail darah dan luka, film ini layak masuk daftar. Oya, jangan lupa dengan kutipan kata-kata Kenshin yang saya tulis paling akhir di atas.
Ada baiknya kita lihat film selanjutnya yang rilis pada 2014. //

Post a Comment

0 Comments