Resensi Novel Terakhir Hemingway yang Diterbitkan Ketika Masih Hidup

Resensi Novel Terakhir Hemingway yang Diterbitkan Ketika Masih Hidup
Dokumen pribadi
Judul
THE OLD MAN AND THE SEA
Penulis
Ernest Hemingway
Penerbit
Ecosystem Publishing
Tebal
iv+132 halaman
Genre
Novel
Penerjemah
Dian Vita Ellyati
Editor bahasa
Bagus Manilkara
ISBN
978-602-1527-04-7
Cetakan II
Januari 2018


Hampir seluruh kisahnya menceritakan lelaki tua. Namanya Santiago. Sebagian sisanya ada tokoh anak kecil bernama Manolin. Dan seorang penjaga bernama Pedrico yang muncul di bagian akhir.
Begitulah, secara garis besar The Old Man and The Sea menceritakan lelaki tua Santiago, nelayan Kuba, yang menjadi tokoh utama, tentang perburuannya di tengah laut. Tanpa ada apa-apa selain air sejauh mata memandang. Bersama pertarungannya dengan seekor Marlin raksasa, yang sampai menyeret kapal kecilnya selama berhari-hari.
Buku ini memakai jenis dan ukuran huruf yang berbeda. Bukan TNR 12, barangkali Calibri 14. Ukurannya lebih besar, membuat membacanya lebih mudah. Dan tak terasa sudah hampir selesai.
Pada awal cerita Hemingway sudah menggabungkan antara kesedihan dan kesenangan. Santiago digambarkan menyedihkan namun memiliki semangat yang membara.
Contoh kesedihan adalah ketika si bocah (Manolin), pindah tidak satu perahu dengan Santiago, ke perahu lain yang menangkap ikan besar-besar atas perintah orang tua Manolin.
“Si bocah sedih menyaksikan lelaki tua itu setiap hari pulang dengan perahu kosongnya, ... Layar itu ditambal dengan karung tepung, dan dalam keadaan tergulung nampak [tampak :red] seperti bendera kalah perang.” (hlm. 2)
Santiago digambarkan sebagai tua kurus, keriput seperti kebanyakan lelaki tua, luka senar senar di tangan, serta dua noda besar di kedua pipi karena kanker kulit.
“Segala sesuatu pada dirinya menggambarkan keuzuran selain sepasang matanya. Kedua mata itu berwarna serupa laut dan menyiratkan keriangan serta semangat yang tak bisa dipadamkan.” (hlm. 2)
Ya, meskipun Manolin meninggalkan Santiago, bocah itu tetap membantu keperluan lelaki tua itu. Santiagolah yang mengajarinya memancing ikan, dan sudah ikut berlayar ke lautan dengan kapal kecil itu sejak usia 5.
Santiago tidak hanya digambarkan sebagai semangat juga, melainkan baik hati pula. Selalu memerhatikan si bocah, meskipun tampaknya si bocahlah yang mengurus segala kebutuhan Santiago. Pada tiap pembahasan mereka berdua di awal cerita, selalu diselipkan pembahasan tentang menangkap ikan besar. Juga beberapa paragraf tentang olah raga sepak bola Amerika.
Qué Va,” celetuk si bocah. “Ada banyak nelayan bagus dan di antaranya memang hebat. Tapi yang seperti Bapak cuma ada satu.”“Terima kasih. Kau membuatku senang. Kuharap tak ada seekor ikan yang demikian besar sehingga membuktikan bahwa kita salah.” (hlm. 17)
Pada novel ini ada catatan kaki. Dan beberapa kata memang dibiarkan dalam keadaan asli dan diberi keterangan penjelasan di catatan kaki. Qué Va, omong kosong.
Kata Manolin baru akan kita jumpai setelah sampai halaman 21. Bersama deskripsi yang sejak awal dijabarkan. Tidak ada konflik yang benar-benar pada saat itu. Barangkali memang belum.
Entah bagaimana, ada beberapa kata tidak baku, misalnya: nampak, sekedar, resiko, berhembus. Serta satu kesalahan penulisan catatan kaki pada halaman 60. Yang seharusnya dicantumkan dengan indeks 12, malah kembali ditulis 8. Hal ini sekadar kesalahan teknis, namun untuk ketelitian editor barangkali perlu ditingkatkan.
Hingga halaman 70, ceritanya seakan makin lambat. Terlalu banyak deskripsi. Dan selingan-selingan cerita dari sepak bola Amerika, dan menyemangati diri sendiri, dan mengandaikan Manolin berada bersamanya agar bisa membantu.
Alur yang makin molor ini sedikit membuat malas melanjutkan membacanya. Saya tidak tahu, dalam versi aslinya, yang diterbitkan pada 1952, apakah juga molor demikian atau karena penerjemahan yang terpaku, atau banyak kata yang diulang, atau bagaimana.
Mungkin, membaca buku dalam versi bahasa aslinya menjadi alternatif membandingkan untuk yang serius mendalami novel Hemingway ini.
Saat di tengah laut, saat kapal kecilnya ditarik terus Marlin raksasa, dia sering berbicara sendiri. Bahkan berteriak. Juga kepada kepala agar tetap tersadar, juga pada tangan agar tidak kejang otot.
Pada akhirnya didapatkannya Marlin raksasa itu dengan menombak tepat pada jantung. Karena kapal kecilnya tidak cukup untuk mengangkat ikan superjumbo dan superberat itu, akhirnya oleh Santiago diikat pada sisi perahu dengan moncong, badan, dan ekor.
Keputusan itu bukan tanpa akibat. Sepanjang perjalanan pulang, dia bertarung dengan hiu. Pertama seekor Hiu Mako, sorenya dengan dua ekor Hiu hidung-sekop, esoknya pada satu hiu, dan kemudian dua ekor lagi. Serangan-serangan hiu tersebut karena mencium darah dari Marlin raksasa.
Santiago, nelayan Kuba tua, selain penakhluk Marlin raksasa yang dianggapnya sebagai teman itu, juga telah mengalahkan banyak hiu di tengah laut yang sendirian. Dan serangan terakhir berupa sekawanan hiu yang jumlahnya berapa itu membuat Santiago benar-benar kewalahan. Dan ikan Marlin raksasa hanya tersisa tulangnya saja.
“Seorang manusia bisa dihancurkan, tetapi tidak untuk ditundukkan.” (hlm. 107)
Dalam cerita ini saya kira ada maksud tersirat. Bahwa santiago adalah nelayan yang sebenar-benarnya nelayan. Penduduk pesisir takjub dan berteriak melihat tulang belulang yang ukurannya 18 kaki itu, dari ekor hingga hidung, di sisi kapal kecil Santiago.
“Di samping itu, pikirnya, semua saling membunuh sesamanya dengan caranya masing-masing. Memancing bisa membunuhku, tepat seperti ia menjagaku agar tetap hidup.” (hlm. 109)
Ceritanya makin cepat dan mendebarkan. Ujung antara hidup dan mati, dan mesti bertarung melawan hiu-hiu. Namun Santiago sealamat, dia tidak mendapat apa-apa selain harga diri, dia istirahat dan bermimpi tentang singa-singa.
Resensi Novel Terakhir Hemingway yang Diterbitkan Ketika Masih Hidup
Dokumen pribadi

Saya kemarin membelinya dalam bazar, dalam satu plastik ada buku kecil, pakai kertas buku. Dengan tebal 46 halaman berjudul Proses Kreatif dan Dunia lain. Di sana dijelaskan bahwa Santiago adalah tokoh nyata. Juga tentang trilogi besar yang disebut sebagai The Sea Book, yang terdiri dari The Sea When Young, The Sea When Absent, dan The Sea in Being. Yang malah berakhir pada satu judul, The Old Man and The Sea.
The Old Man adn The Sea mengantar Hemingway memenangi Hadiah Pulitzer (1953, satu tahun setelah terbit), Award of Merit Medal for Novel dari American Academy of Letters, dan Nobel Sastra pada 1954.
Novel ini bisa dibaca siapa saja. Tidak ada adegan dewasa macam Sastra Kenchu, Enny Arrow. Palingan hanya minum bir, dan minum bir di seloki adalah biasa.

Tinggalkan Komentar

2 Comments

Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)