Resensi Novel Kesatria Sinting Don Quixote yang Menginspirasi

Resensi Novel Kesatria Sinting Don Quixote yang Menginspirasi
Dokumen pribadi
Judul
PETUALANGAN DON QUIXOTE
Penulis
Miguel de Cervantes
Penerbit
Penerbit Narasi
Penyunting
Fransiska Titin
Ilustrator
Hengky Irawan
Tahun terbit
Cetakan Kedua, 2007
Tebal
79 halaman
ISBN
979-97564-37-1

Saya tidak akan sangsi jika kalian telah mengenal penulisnya, Miguel de Cervantes Saavedra. Cervantes seorang pengarang besar Spanyol, tahun 1547-1616. Bukan 1818. Jika 1818 kita tahu itu kelahiran Marx. Dan pada buku ini, tidak ada hubungan apapun dengan Marx, bahkan untuk jabang bayinya.
Novel tipis ini dibagi menjadi 10 bagian.  10 itu di antaranya adalah: Memulai Perjalanan, Kekasih Sang Ksatria, Lord of The Castle, Dinobatkan sebagai Ksatria, Petualangan dengan Para Pedagang, Bertempur dengan Kincir Angin, Petualangan dengan Biri-Biri, Helm Mambrino, Don Quixote Dibawa Pulang, dan Petualangan dengan Singa.
Secara keseluruhan, novel ini enak dibaca, memakai jenis huruf melengkung dan ukuran jarak yang besar. Dapat diselesaikan dalam sekali duduk atau jongkok, dan sukses membikin terkesan. Terjemahannya bagus, mudah dipahami, dan mengalir. Barangkali memang demikian sebab pada bagian sampul diberi keterangan “Seri Dongeng Anak”.
“Inilah dia, kisah luar biasa seorang Don Quixote. Dia memiliki petualangan menarik yang terkenal di seluruh dunia.” (hlm. 9)
Di atas adalah kalimat pertama di bagian 1, Memulai Perjalanan.
Diceritakan bahwa Don Quixote menyukai baca buku. Terutama buku petualangan. Dan petualangannya dimulai karena suatu kegelisahan.
“Tahun-tahun pun berlalu, usia Don Quixote semakin bertambah. Sampai sejauh itu, dia belum memiliki cerita yang menarik. Sosoknya tetap sebagai pemuda kebanyakan yang tidak memiliki keistimewaan apa pun.” (hlm. 10)
Selain bahasa yang ringan dan ukuran jarak huruf yang bersahabat, buku ini makin mudah dibaca karena tiap dua halaman sekali ada ilustrasigambar. Imajinasi pembaca tentang apa yang dikisahkan semakin jelas.
Don Quixote menganggap dirinya sebagai kesatria. Dan sebagai kesatria, menurutnya, harus memiliki gadis yang cantik dan anggun. Cerita ini dibahas di bagian kedua, Kekasih Sang Ksatria. Pada akhirnya Don Quixote menganggap gadis miskin dari Desa Toboso sebagai kekasihnya –karena dari desanya hanya berisi perempuan tua yang sama sekali tidak anggun. Kemudian memanggil gadis tadi sebagai Dulcinea of Toboso (Kekasih Hati dari Toboso).
Dia mencari baju besi, dan menemukannya di gudang bawah tanah. Juga pedang. Juga perisai. Juga helm. Juga kuda ringkih dan tua dan lemah, yang diberi nama Rosinante, yang dia anggap sebagai kuda kuat nan gagah.
Awal mula petualangannya dimulai. Dia memakai semua peralatan yang membuatnya sebagai kesatria. Namun dia belum jadi kesatria sejati jika belum mengalahkan kesatria lainnya, atau dinobatkan.
Berhubung Don Quixote tidak memiliki pengalaman berkelahi sama sekali, bahkan untuk membawa baju besinya saja kewalahan, dan takut dihadapkan dengan kesatria lainnya, dia memilih pilihan kedua, dinobatkan.
“Aku harus pergi ke kastil pertama yang kutemui,” katanya kepada dirinya sendiri. “Dan meminta Lord of The Castle (Raja di sebuah Kastil) untuk menobatkanku sebagai seorang ksatria.” (hlm. 28)
Kastil benar-benar ditemui. Namun kenyataannya, yang dikiranya kastil besar adalah sebuah penginapan kecil. Dan Lord of The Castle adalah pemilik penginapan tersebut. Dari sini Don Quixote dianggap gila. Semua orang mengikuti orang gila, tidak mau membuat orang gila kecewa, bayangkan apa yang bisa dilakukan orang gila yang kecewa yang membawa senjata, perisai, dan baju besi.
Sehingga pemilik penginapan mau berperan sebagai  Lord of The Castle.
Bagian 1 dan 2 sebagai persiapan Don Quixote menjadi kesatria. Sedang mulai bagian 3 dimulailah petualangannya yang seru, jenaka, dan pemberani.
“Berdirilah dan bersiap-siaplah. Bersok aku akan menobatkanmu menjadi ksatria dalam sebuah upacara yang sederhana.” (hlm. 35)
Tentu saja Don Quixote senang bukan main. Dia lupa, dan sialnya membuat pembaca terpesona dan sama-sama lupa, bahwa Don Quixote adalah kesatria adalah imajinasi belaka.
Prosesi penobatan dilakukan dengan cepat. Dan Don Quixote merasa telah menjadi kesatria sejati. Dia, dengan Rosinante, berjalan ke pasar dan bertemu dengan para pedagang. Ini diceritakan pada bagian 5, Petualangan dengan Para Pedagang.
“Berhenti!” teriaknya dengan suara lantang, “…dan katakan bahwa Dulcinea of Toboso adalah wanita paling cantik di dunia.”
Para pedagang malah mengatakan sebaliknya, dan Don Quixote marah besar. Dia mengayunkan senjatanya tapi Rosinante begitu lemah dan ringkih sehingga membuat Don Quixote jatuh. Hal itu membuat para pedagang tertawa, tawa mereka makin keras ketika Don Quixote tidak bisa bangun karena baju besinya terlalu berat untuk tubuhnya. Dia dijotos para pedagang.
Bagian keenam ceritanya makin kompleks dan seru. Dia masih menganggap dirinya sebagai kesatria, sialnya, dia memiliki pengawal, dan makin sial lagi, pengawalnya mau diajak berpetualang.
Dari sini kita bisa mengambil hikmah, jika Anda merasa sebagai manusia paling sinting sedunia, jangan khawatir. Sebelum Anda, Don Quixote juga sinting dan tetap memiliki teman.
Mereka berdua, Don Quixote dan pengawalnya yang bernama Sancho Panza berpetualang. Don Quixote naik Rosinante, sedangkan Sancho Panza naik keledai.
“Lihat!” teriaknya, “Ada beberapa raksasa.”Sancho heran. “Aku tidak melihat raksasa,” katanya, “Aku hanya melihat kincir angin.” (hlm. 50)
Don Quixote memacu Rosinante dan menyerang kincir angin yang dianggapnya sebagai raksasa dengan tombaknya. Tombak itu menancap pada baling-baling, membuatnya terangkat dan membentur tanah berkali-kali.
Sama seperti sebelumnya, kecerobohan Don Quixote membuatnya harus istirahat di rumah untuk beberapa minggu untuk menyembuhkan luka-lukanya.
Setelah sembuh mereka kembali berpetualang. Sancho Panza masih mengikuti Don Quixote dan tetap dengan keledai.
Don Quixote melihat kumpulan biri-biri sebagai pasukan yang hendak berperang. Dia menyerang biri-biri. Melihat itu, para penggembala marah besar dan melempari Don Quixote dengan batu, dia terkena, jatuh, dan sebagian giginya rontok.
“Wajahmu jadi tampak seperti sedang sedih tanpa gigimu,” kata Sancho sambil tersenyum.Don Quixote merasa senang.“Aku akan memanggil diriku sendiri dengan sebutan The Knight of The Sad Face (Kesatria Berwajah Sedih).” Katanya. (hlm. 58)
Imajinasi Don Quixote masih berlanjut. Bagian delapan, dengan pengawalnya, Sancho Panza, dia melihat seseorang berkuda yang memakai baskom perunggu di kepalanya. Don Quixote menganggap pria berkuda, yang sebenarnya adalah tukang pangkas rambut, adalah sebagai sesama kesatria.
Sancho Panza sudah mengingatkan bahwa helm itu adalah baskom dan pria berkuda tersebut bukan kesatria.
“Bukan! Bukan!” jawab Don Quixote, “Dan helm yang dia kenakan itu adalah helm ajaib Mambrino. Aku akan menyerang dia dan mengambil helmnya.” (hlm. 62)
Lagi-lagi Don Quixote membuat kegaduhan. Pria berkuda jatuh dari kudanya, helmnya jatuh, dan Don Quixote mengambilnya. Dalam perjalanan selanjutnya, dia melihat segerombol orang, menyerangnya.
“Mereka membawa para tahanan itu untuk dijadikan budak di kapal,” kata Don Quixote, “Aku akan menolong mereka untuk kabur.” (hlm. 64)
Sikap berani Don Quixote, lagi-lagi berakhir dengan lemparan batu yang membuatnya merasa kesakitan.
Bagian 9, Don Quixote Dibawa Pulang, muncul tokoh baru: Si Pendeta, Master Nicholas, dan Dorothea.
Dalam perjalanan, seseorang mencuri keledai Sancho. Don Quixote menulis surat cinta kepada Dulcinea of Toboso dan bersumpah tidak meninggalkan tempat itu jika belum mendapat surat balasan.
Sancho Sang Pengawal naik Rosinante dicegat Si Pendeta dan Master Nicholas. Kemudian menanyai di mana Don Quixote.
Diarahkan mereka oleh Sancho menemui Kesatria Don Quixote, dibantu dengan Dorothea.
“Aku akan berpura-pura menjadi seorang puteri,” kata Dorothea, “dan Master Nicholas akan berpura-pura menjadi pengawal saya.” (hlm. 69)
Mereka berupaya menghentikan petualangan bodoh Don Quixote. Dia terpikat juga oleh Dorothea, pada perjalanan, mereka tidur di penginapan. Don Quixote mengigau, dia tidur membawa pedang dan merobek gorden jendela kamarnya. Pemilik penginapan marah. Don Quixote diikat dan dibawa pulang.
Lagi-lagi Don Quixote belum menyerah. Dia kembali berpetualang seperti di buku-buku petualangan yang dibacanya. Masih bersama pengawalnya, Sancho Panza. Bagian 10, Petualangan dengan Singa.
Dia menghadang di tengah jalan gerobak yang membawa singa besar untuk pertunjukan. Dengan mengacungkan senjata, menyuruh penjaga untuk membuka kandang singa. Tanpa gentar, Don Quixote berdiri di depan kandang singa yang telah terbuka. Orang-orang telah kabur.
Tapi singa besar itu tidak kunjung meloncat pada Don Quixote. Dia tidak takut pada singa. Dan merasa aneh mengapa singa itu tetap mendekam di kandang.
Sancho yang bersembunyi mengatakan bahwa singa itu takut kepadanya, penjaga kemudian buru-buru menutup kembali pintu kandang setelah diperintah Don Quixote.
“Singa itu takut padaku maka aku akan memanggil diriku The King of The Lion.” (hlm. 79)
Don Quixote yang awalnya penakut menjadi pemberani karena petualangan-petualangan. Karena cibiran dan olok-olok masyarakat sekitarnya. Bahkan pada awal cerita dijelaskan bahwa dirinya tidak berani bertempur melawan kesatria lain dan memilih menjadi kesatria dengan cara dinobatkan.
Tapi akhirnya, dia menjadi pemberani. Novel ini digadang-gadang dan dibicarakan sebagai narasi yang memotivasi tentang keberanian, juga kerja keras, dan tidak putus asa.
Setelah melakukan beberapa petualangan lagi, Don Quixote merasa tidak enak badan dan pulang. Ini adalah bagian terakhir. Dan kalimat penutupnya berbunyi:
“Aku merasa tidak begitu sehat,” kata ksatria, “Kita akan tinggal di rumah selama satu tahun. Kemudian kita akan mulai lagi dan berpetualang lagi.”Don Quixote masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamar tidurnya. Tiga hari kemudian dia mati. *** (hlm. 79)
Kisah legendaris dan klasik ini memukau. Karena terjemahannya yang menyenangkan, diliputi beberapa kesan jenaka, maka sangat bisa diselesaikan dengan sekali duduk saja. Cocok dibaca siapa pun. Terutama bagi yang merasa dirinya gila.


Tinggalkan Komentar

2 Comments

  1. Menurut saya cerita ini tidak jenaka, melainkan menyedihkan, penuh kebohongan, penuh olok-olok, penuh rasa kasihan, dan sekali lagi sangat-sangat menyedihkan. Akhir kisahnya terlalu tragis untuk menjadi buku anak-anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, kehidupan yang menyedihkan seperti itu sebenarnya jenaka dan lucu. Seperti kehidupanku, seperti kehidupanmu.

      Delete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)