9+1 Elemen Jurnalisme Bill Kovach & Tom Rosenstiel


Kovach dianggap sebagai wartawan yang nyaris tanpa memiliki cacat. Redaktur majalah Tempo kala itu, Goenawan Muhammad mengaku kesulitan mencari kesalahan Kovach. Dari buku Kovach berjudul The Elements of Journalism yang ditulis bersama rekannya Tom Rosenstiel, mereka merumuskan Sembilan elemen jurnalisme. Penempatan poin pertama adalah kebenaran. Selanjutnya silakan lihat di bawah:

  • Kebenaran
  • Loyalitas kepada warga negara (citizen)
  • Disiplin verifikasi
  • Independen
  • Pemantau kekuasaan
  • Menyediakan forum publik
  • Menarik dan relevan
  • Komprehensif dan proporsional
  • Hati nurani
  • Warga negara memiliki hak dan kewajiban terkait berita
Berikut sedikit penjelasan 9+1 Elemen Jurnalisme Bill Kovach & Tom Rosenstiel

1. Kebenaran

Kebenaran bersifat subjektif. Bagaimana sebuah kebenaran dianggap benar-benar benar pada satu individu terhadap individu lainnya? Kebenaran yang bagaimana? Berbagai kajian memiliki standar kebenaran yang berbeda. Filsafat, agama, ilmu, memiliki dasar penentuan kebenaran yang berbeda.
Apalagi masalah subjektif jurnalisnya. Tentang pengetahuan yang didapatnya, kultur dan sosialnya, latar belakang organisasinya, kelompok etniknya, atau bahkan agamanya, juga memengaruhi kebenaran.
Saya membaca satu modul yang dipakai suatu organisasi intrakampus, di sana dijelaskan tentang kebenaran fungsional. Misalnya, polisi menangkap seseorang dan dijadikan tersangka berdasarkan kebenaran fungsional, hakim menjalankan peradilan juga kebenaran fungsional, dan guru-guru mengajar matematika, fisika, sejarah, dll adalah kebenaran fungsional juga.
Namun kebenaran-kebenaran di atas sangat bisa disalahkan dan dibenarkan.
Tersangka yang ditangkap polisi bisa jadi Sugali di lagu Virgiawan Listanto, tidak, maksud saya tersangka itu bisa dibebaskan. Hakim bisa keliru. Dan matematika, fisika, bahkan sejarah bisa meleset dari kenyataan.
Lantas bagaimana Kovach mengklasifikasikan kebenaran sebagai sesuatu yang benar? Dia dan Rosenstiel mengambil contoh tabrakan lalu lintas, pada lapisan pertama wartawannya mencari identitas dan data terkait 5W+1H. Lapisan selanjutnya wartawan mencari tanggapan dari polisi dan saksi mata atau keluarga korban. Hal itu akan direvisi oleh redakturnya. Begitu pula seterusnya, jika berita telah dilempar ke ruang publik kemudian muncul opini dari warga, maka berita akan berlanjut dengan klasifikasi yang lebih detail.
Kebenaran yang dimaksud Kovach dan Rosenstiel adalah kebenaran yang didapat dari tahap-tahap itu. Dari tiap lapis pencarian data-data, klarifikasi, dan koreksi.

2. Loyalitas kepada warga negara (citizen)

Loyalitas dalam KBBI V berarti kepatuhan, kesetiaan. Dalam hal ini, wartawan harus setia pada warga negara. Oleh sebab itu, diperlukan bekal berupa pengetahuan tentang filsafat, human right perspective, dan feminisme.
Bekal-bekal itu digunakan agar seorang wartawan tidak melenceng atas keberpihakannya pada tulisannya. Hal yang sangat besar memengaruhi loyalitas adalah materi. Uang atau pendapatan untuk wartawan/redaktur/kru yang bertugas menjadi factor yang diungkapkan Kovach dan Rosenstiel. Fenomena ini kebanyakan terjadi pada surat kabar mainstream.
Dampak paling buruk dari bias loyalitas ini adalah keberpihakan tulisan yang lebih condong kepada pemodal. Sehingga berita-berita yang diproduksi menguntungkan mereka. Warga negara yang mesti diperjuangkan malah tersisihkan.
Jurnalis itu tugasnya menyampaikan kebenaran. Sebagai penyambung lidah rakyat. Jika orientasi tulisan sudah melenceng, maka rakyat makin tersesat dalam kegelapan. Berapa banyak yang telah disesatkan? Sebanyak berita tersebut dibaca, dan ditambah jumlah pembaca yang mengabarkan berita tersebut kepada orang lainnya.
Kerja jurnalis bukan kerja ringan dan mudah. Dan yang paling jelas, uangnya sedikit.

3. Disiplin verifikasi

Hal yang tidak bisa dikesampingkan dari kerja jurnalis adalah disiplin verifikasi. Disiplin ini mampu menangkal virus hoaks dan isu yang belum pasti sehingga tidak durhaka pada elemen pertama kebenaran.
Jurnalisme bekerja dalam ranah data dan bukan fiksi. Disiplin verifikasi sering dikaitkan dengan objektivitas.
Pada zaman positivisme, ada yang namanya kaidah objektivitas. Ada dua poin penting di dalamnya. Pertama, check and re-check. Kedua, cover multi-side atau cover both-side. Jika telah memenuhi kedua poin kaidah objektivitas tersebut, maka berita akan netral.
Kaidah objektivitas tersebut masih kurang, kita perlu memakai solusi yang ditawarkan kelompok kritis. Apakah ada netral itu? Tidak ada. Dalam kerja jurnalis, semua adalah keberpihakan. Entah berpihak pada proletar atau berpihak pada borjuis.
Jika sesuai dengan elemen jurnalisme kedua loyalitas kepada warga, sebagai jurnalis/wartawan seyogyanya tetap memperjuangkan hak-hak dari warga. Saya beri contoh, jika ada kecelakaan di depan SPBU, maka akan ada banyak sekali alasan mengapa kecelakaan bisa terjadi. Mungkin karena mengantuk, tidak melihat kiri-kanan, atau ban motor meletus. Tapi hal-hal tersebut tidak akan terjadi jika ada rambu-rambu di depan SPBU dan ada petugas yang mengatur dan berjaga menyeberangkan orang di sana. Serta ada garis penyeberangan sebelum SPBU agar pengendara yang hendak lewat depan SPBU hati-hati. Jadi yang salah siapa? Dan paradigma/pola berpikir kita akan membuat tulisan berpihak ke mana? 

4. Independen

Netral bukanlah prinsip jurnalisme. Wartawan harus menjaga jarak dengan narasumbernya. Menjaga jarak dengan pemerintah.
Analoginya begini: jika organisasi jurnalis mendapat sokongan dana dari pemerintah untuk meliput tentang pariwisata agar makin dikenal, sangat mungkin tulisan di sana mendewakan pemerintah. Memuji pemerintah atas kerja keras yang belum pasti.
Di sinilah independensi lembaga diuji. Apakah lembaga masih independen meski kesulitan dalam pemenuhan finansial atau lembaga melepas independensinya demi kerja enak?
Dampaknya, penuntutan hak rakyat yang mesti disuarakan akan lenyap. Jika tidak, pasti ada berita yang mengunggulkan pemodal.
Misalnya, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie pada 2009-2014 pemilik tvOne, ANTV, dan vivanews.  Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dengan media Metro TV, Media Indonesia, metronewscom. Dan pentolan Partai Hanura Hary Tano pemilik MNC TV, RCTI, Global TV, Koran Sindo, dan okezonecom. Bisa bayangkan apa berita yang dikabarkan media-media tersebut terkait perpolitikan?

5. Pemantau kekuasaan

Memantau kekuasaan bukan dilakukan untuk cari gara-gara dengan pemerintah. Tapi dengan tujuan ikut menegakkan demokrasi. Kebebasan hak berpendapat. Di sinilah peran jurnalis untuk menyambung lidah rakyat.
Jenis pencarian data yang cocok dengan pemantauan kekuasaan adalah investigasi. Tulisan yang diproduksi adalah depth news (berita mendalam). Namun hasil investigasi ini memiliki dampak yang amat besar, tidak hanya kepada sasaran investigasi, tapi juga kepada pemilik media.
Mungkin karena risiko investigasi yang tidak main-main, belum banyak media yang benar-benar melakukan investigasi. Meskipun beberapa peliputan di televisi menggunakan label investigasi. Media-media memantau kekuasaan dengan cara yang lebih lembut, misalnya mempertanyakan kebijakan dll.

6. Menyediakan forum publik

Forum publik zaman dahulu berupa ruang tamu dalam kantor surat kabar. Namun sekarang, forum publik bisa berupa program telepon, talk show, kolom opini surat kabar, bahkan komentar di media pemberitaan daring.
Komentar-komentar ini merupakan bentuk dari demokrasi. Pemerintah akan tahu dan membaca komentar untuk membuat kebijakan yang lebih manusiawi dan berpihak pada rakyat. Semoga.

7. Menarik dan relevan

Tulisan yang menarik bisa juga relevan dengan data-data. Namun jika melihat fenomena sekarang, hal-hal menarik diidentikkan dengan hiburan. Meski salah satu fungsi media adalah hiburan.
Dalam hiburan pun, masih bisa dimasukkan data-data yang bersifat informatif. Opini satire seperti mojokco menjadi salah satu alternatifnya.
Terlepas dari hiburan, tulisan serius berisi data-data juga bisa diracik sehingga menjadikannya menarik untuk terus dibaca. Banyak media pemberitaan daring yang menyajikannya menarik. Tidak sensasional. Bukan gosip selebriti.
Di sini wartawan harus mampu membungkus data dengan narasi menarik yang relevan.

8. Komprehensif dan proporsional

Berita-berita kini memakai judul sensasional. Misalnya seorang artis terkenal dikabarkan meninggal, atau anak membunuh orang tuanya, dll.
Oleh sebab itu muncul istilah bad news is good news. Berita yang buruk malah jadi berita yang baik dan disukai. Kita salah kaprah di sini. Mestinya, juga mengabarkan prestasi anak negeri, dan menjadikan berita yang baik memang berita yang baik.
Tentang proporsional, tiap redaktur saya kira punya kebijakan masing-masing dalam mengolah tulisan. Terutama perbedaan redaktur online dengan pemimpin redaksi majalah. Mata orang-orang akan lebih cepat lelah jika membaca gawai. Maka tulisan-tulisan di media daring lebih sedikit narasinya.
Wartawan harus bisa mengatasi subjektivitasnya untuk membuat berita yang proporsional.

9. Hati nurani

Banyak pemberitaan yang menggunakan diksi yang kurang pantas jika diperuntukkan bagi manusia. Dan diksi ini sering dipakai dalam berita misalnya pekerja seks. Seperti diksi ‘perempuan itu menjajakan tubuhnya’.
Semua kru media memiliki tanggung jawab personal. Redakturnya bisa mengoreksi dengan bilang, “Pakai diksi selain mejajakan. Tidak manusiawi.”
Begitu pula dengan penulisnya, jika ada berita yang hendak diunggah, kru lainnya bisa memberi masukan pada redakturnya, “Bos, tulisan ini tekesan rasis.”
Redaktur memang menjadi pemutus final tentang tulisan yang akan dilempar ke ruang publik. Namun mereka mesti senantiasa membuka diri dengan kritik dan komentar.

10. Warga memiliki hak dan tanggung jawab terkait berita

Warga kini bukan hanya konsumen. Elemen ini muncul karena pesatnya perkembangan internet yang memengaruhi media pemberitaan daring yang semakin gencar juga. Sehingga muncul istilah citizen journalism (jurnalisme warga).
Warga bisa mengirim berita, komentar, opini, dll. ke media cetak maupun media daring. Warga telah jadi bagian penyebar informasi.
Hal-hal tentang media pemberitaan daring telah kita bahas sebelumnya di Jurnalisme Online, Cepat atau Akurat? 

Tinggalkan Komentar

1 Comments

Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)