Tulungagung Kota Cethe: Budaya Melukis Rokok

Tulungagung Kota Cethe: Budaya Melukis Rokok
repo inet
Jika mendengar nama 'Tulungagung', saya bisa menebak pasti pikiran pendengar melayang pada marmer. Tulungagung dikenal sebagai penghasil marmer terbesar di Indonesia, terutama daerah bagian selatan. Jika penghasil mantan, itu bukan Tulungagung, melainkan teman saya yang juga tinggal di Tulungagung. Kemarin ketika ngopi di Lor Kali, dia mendaftar mantan-mantannya, jumlahnya nyaris tiga lusin!
Kembali lagi, Tulungagung terletak sekitar 154 kilometer ke arah barat daya bertolak dari Kota Surabaya, Jawa Timur. Pada bagian selatan Tulungagung, berbatasan langsung dengan Samudra Hindia, sebelah timur dengan Blitar, barat dengan Trenggalek, dan utara dengan Kediri.
Kita tidak hendak membahas marmer, bukan juga sejarah Tulungagung, apalagi tentang banyaknya mantan teman saya. Ada satu budaya yang luput dari KBBI V: cethe.
Tulungagung Kota Cethe: Budaya Melukis Rokok
dokumen pribadi. Diakses pada Februari 2019.
Cethe adalah ampas kopi. Sedangkan Nyethe adalah melukis rokok dengan cethe. Definisi ini sangat kondisional dan tidak paten. Kopi yang biasa dipakai untuk nyethe adalah kopi susu dan kopi ijo
Kopi ijo sendiri berasal dari biji kopi yang ditumbuk dengan kacang hijau sampai halus. Kopi ijo maupun kopi susu, jika digunakan untuk nyethe, akan dituangkan pada lepek cangkir. Kemudian ditunggu hingga mengendap. Kedua jenis kopi tersebut menjadi favorit karena teksturnya yang amat halus. Mudah dibentuk pada rokok. Dan mudah menempel.
Kopi ijo yang terkenal di Tulungagung dari warung kopi Mak Waris. Dilansir dari tribunnews.com, kopi ijo Mak Waris sampai ke Malaysia

Berikut beberapa cara unik nyete di Tulungagung:

  1. Biarkan endapan kopi di lepek sekitar 5 sampai 10 menit, satu jam juga boleh, jika kalian sabar. Kemudian tuangkan airnya kembali ke gelas, sekarang kita mendapatkan cethenya. Keringkan cethe halus tersebut menggunakan koran atau tisu, mengambil sisa-sia air di sana. Aduk dan perkirakan dengan rumus kalkulus dan integral, bahwa tingkat keringnya telah sempurna.
  2. Ambil senjata kita. Bisa menggunakan tusuk gigi, benang jahit, bahkan silet! Jika kalian merasa kurang ekstrim, bisa gunakan golok atau langsung celupkan saja rokok ke dalam gelas kopi.
  3. Bagian ujung senjata yang telah terkena cethe, oleskan pada rokok. Sebenarnya tidak perlu ditekan. Asal menempel. Bentuk sesuka hati. Bisa bunga, nama, ataupun penis. Asal jangan lukis wajah mantan, saya takut kalian tidak kuat.
"Jangan biarkan rokokmu polosan," kata masyarakat Tulungagung.
Saya perah kedatangan teman dari Yogyakarta, dia bertanya, "Itu ngapain?"
Berhubung dari jauh, saya jawab serius, "Nyete ini namanya. Di Yogya nggak ada?"
"Nggak ada. Apa faedahnya?" wajah teman saya itu tiba-tiba kemonyo + kemaplok.
Agak ngegas saya jawab, "Biar rokok awet! Gak habis-habis!"

Bagaimanapun ini adalah budaya. Seyogyanya kita lestarikan, toh tidak ada ruginya. Malah membuat penampilan rokok makin menarik. Makin indah dan cantik mirip mantan teman saya. Selain dari kopi, jika ingin berwarna, saya menyarankan untuk nyethe pakai sambal ABC super pedas. Rasanya tak pedas-pedas amat. Silakan dicoba jika tidak percaya. Sekian. //

Post a Comment

3 Comments

  1. Replies
    1. Kebiri pelakunya.
      Atau pakai alternatif ini: kawini pelaku dan arahkan ke jalan yang benar.
      Atau yang paling dekat: mulai dari diri sendiri. Kait kelompok pelestari alam, diskusi dan mulai bersuara agar didengar.

      Delete
    2. Aku perlu contoh dari Tuan Penulis

      Delete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)