Resensi Lelucon Para Koruptor: Maha Benar Agus Noor dengan Segala Leluconnya



Judul
LELUCON PARA KORUPTOR
Penulis
Agus Noor
Penyunting
Gunawan Tri Atmodjo
Penerbit
DIVA Press
Cetakan Pertama
Desember 2017
Tebal
272 hlmn; 14 x 20 cm
ISBN
978-602-391-472-2
Resensor
Jusuf Fitroh

...Ia setuju pemberantasan korupsi, tetapi juga mengingatkan bahwa koruptor itu aset negara yang harus dikelola dengan baik dan bijak. "Kalau tidak," katanya, "negara ini akan lumpuh karena semua aparat dan pejabatnya masuk penjara. Bayangkan, apa jadinya kalau semua sipir penjara pun masuk penjara? Siapa yang akan menjaga penjara?"...
Buku ini telah diracik dengan elegan oleh penulis yang pada 26 Juni kelak ulang tahun ke 51. Pria kelahiran Tegal ini pernah menempuh pendidikan di Jurusan Teater di ISI Yogyakarta.
Pada bagian Tentang Penulis, bukunya sudah berjibun: 
  1. Memorabilia (Yayasan untuk Indonesia, 1999)
  2. Bapak Presiden yang Terhormat (Pustaka Pelajar, 2000)
  3. Selingkuh Itu Indah (Galang Press, 2001)
  4. Rendezvous: Kisah Cinta yang Tak Setia (Galang Press, 2004)
  5. Potongan Cerita di Kartu Pos (Penerbit Buku Kompas, 2006)
  6. Sebungkus Nasi dari Tuhan, Sepasang Mata Penari Telanjang, Matinya Toekang Kritik (Lamalera, 2006)
  7. Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (Bentang, 2010)
  8. Cerita Buat Para Kekasih (GPU, 2016) serta,
  9. Ciuman yang Menyelamatkan dari Kesedihan (kumpulan puisi, Metion Publishing, 2012)
Lelucon Para Koruptor diambil dari salah satu cepennya pada halaman 119. Keseluruhan dari cerita-cerita yang dirangkum memiliki esensi humor. Saya paling suka ceritanya pada halaman 139 berjudul Perihal Orang Miskin yang Bahagia.
Teman saya yang tidak pernah menulis mengatakan bahwa Agus Noor sering menulis tentang romantis-magis. Kesan magis tersebut saya dapati juga di buku ini, pada beberapa bagian di beberapa cerpen. Seperti ketika mayat penyair menangis, arwahnya bermain gaple, atau ketika mayat orang miskin berubah jadi anjing, atau ketika seekor anjing dilaporkan ke polisi karena dianggap menyebarkan ajaran komunis, atau lagi tentang koruptor yang menjadi tokoh inspiratif.
"NASIB buruk kadang memang kurang ajar. Suatu hari, orang miskin itu berubah jadi anjing. Itulah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Anak istrinya yang kelaparan segera menyembilhnya." (hlm. 157)
Kutipan di atas saya ambil pada bagian 26 di judul Perihal Orang Miskin yang Bahagia.
Kita meloncat kembali ke halaman 5. Pada Candaan Asem Agus Noor oleh Edi AH Iyubenu. Saya jadi teringat Sunan Ngeloco yang sama-sama membuat saya tertawa-tawa, nahasnya buku itu hilang sebelum saya sempat meresensinya.
...Ada begitu banyak candaan, dagelan, gojekan, lelucon --yang sesungguhnya adalah humor satire atas pelbagai realitas memuakkan di sekitar kita-- yang dengan senyum-senyum itu kita sejatinya sedang menertawakan diri sendiri. Asem rasanya.
Saya setuju. Beberapa kali saya banting buku itu sambil misuh sebab tulisan di sana membuat terbahak tiada henti. Jika kemarin telah kita resensi Kumpulan Humor Nasruddin Hodja, saya menemukan dua cerita yang dimodel nyaris serupa. Bedanya di sini --jika boleh saya bilang-- anekdot bersambung. 
Amat muskil membahas tiap cerpennya, maka akan saya ambil beberapa kutipan yang menggelar gelak tawa. Seperti pada Mati Sunyi Seorang Penyair.
"...Ibu tinggal siapkan dana, semua beres. Oh ya, kalau Ibu mau para warga di sini membantu menguruskan pemakaman ya tak apa-apa, biasanya mereka dapat lima puluh ribu per orang. Ibu butuh berapa orang? Serahkan duitnya sama saya. Biar saya yang bantu bagikan pada mereka. Kalau duitnya dikasih orang lain, nanti malah dikorupsi. Bagaimana, Bu? Ibu mau pilih paket kematian yang mana?"
Bahkan pada suasana duka, Agus Noor mampu menyelipkan tema korupsi beraroma jenaka di sana. Pada ranah agama dan tentunya juga politik. Saya baru tahu jika pemakaman ada paketannya. Istri penyair yang mati dan miskin itu sedih, bukan sebab ditinggal mati, melainkan mesti membiayai untuk kematian suaminya. Sialnya, Agus Noor menamakan Sipon untuk istri penyair dalam ceritanya tersebut.

Bagian 1 di Perihal Orang Miskin yang Bahagia dibuka dengan paragraf:
"AKU sudah resmi jadi orang miskin," katanya sambil memperlihatkan Kartu Tanda Miskin yang baru diperolehnya dari kelurahan. "Lega rasanya, karena setelah bertahun-tahun hidup miskin, akhirya mendapat pengakuan juga." (hlm. 140)
Kemiskinan di negeri ini seolah-olah tidak dilihat, atau lebih tepat disebut sebagai pemiskinan. Bagian yang sampai 26 ini benar-benar mengocok perut saya. Jika mengocok sesuatu di bawah perut, itu sudah ada ahlinya, dan tidak perlu Agus Noor melakukan kepada saya.
Pada bagian 3:
"Kamu memang punya bakat jadi orang miskin," kata dukun itu. "Mestinya kamu bersyukur, karena tidak setiap orang punya bakat miskin seperti kamu." Kudengar, sejak itulah, orang miskin itu berusaha konsisten miskin. (hlm. 142)
Ada sekian banyak satire yang jenaka. Pada tiap cerita ada satu-dua ilustrasinya. Menjadikan buku ini unik sekaligus menarik. Ilustrasi tersebut mendorong imajinasi kita untuk bisa dengan dalam merasai apa yang hendak disampaikan Agus Noor. 
Kita akan tertawa, sebelum sedih dan tertawa lagi. Bagi kalian yang hendak melaksanakan bunuh diri, saya mohon bacalah buku ini, siapa tahu kalian mati tertawa. Meskipun sama-sama mati, setidaknya lebih elegan. //


Tinggalkan Komentar

0 Comments