New York in Our Ass!


Acara berakhir sekitar pukul sepuluh. Itupun sebab aturan dan standar moral di kampus ini. Mereka telah kelar dengan pembelaan dan penguatan juga beberapa satire untuk menyerang. Tiga Ormek kampus, jika boleh saya sebut: PMII, HMI, dan GMNI. Perwakilan yang merupakan ketua komisariat kota ini, sedang berada di depan audiensi. Sebenarnya ada satu lagi, IMM, yang tidak datang kembali setelah listrik mati.
Pertemuan mereka bukan tanpa sebab, majalah kampus yang hendak diluncurkan menjadi alasan paling besar talkshow tersebut terjadi.
Saya kemudian menghabiskan waktu di warung kopi. Merasakan pergantian Jumat dengan Sabtu. Bersama para senior lapuk. Meskipun memang lapuk, pikiran mereka makin tajam, terlepas dari keterikatan dengan perpolitikan seperti acara yang tadi saya ikuti.
Seperti kebanyakan serius yang lebih gampang membuat sinting, mereka –para senior lapuk itu—lebih senang bercanda. Satu-satu dari mereka percaya bahwa candaan adalah hal serius yang nyaris tanpa potensi membikin depresi. Begitulah Jumat malam berlalu, dengan candaan yang serius.
Tengah malam satu-satunya perempuan dari kami minta diri. Wajahnya lebih menyebalkan daripada dosen yang telat terima gaji. Tampak kusam dan abu-abu. Tidak pasti.
Pembicaraan itu menghasilkan suatu keputusan bersama. Orang paling pendiam berkata, “Ini sudah tahun 2019, kita mesti ambil posisi.”
Saya tahu jika hari ini adalah tahun 2019. Juga sebulan yang lalu sudah 2019. Alasan yang tanpa dasar itu malah saya suka, hal itu pula yang membikin ketawa.
Karena alasan yang konyol, juga keputusan yang nyaris tanpa rencana, pundak saya akan tambah hiasannya. Saya akan bolak-balik masuk ke situs web mirip orang kencing tapi kebingungan membuka kancing celana, dimensipers.com, kencingpena.com, seloki.com, dan yang paling anyar, dari putusan senior lapuk: sadha.net.
Pemegang empat situs web itu bukan masalah gampang, sebab bukan web bokep. Jika bokep, saya hanya akan membagikan sepotong cuplikan di media sosial sambil menaruh tautan di sana, orang-orang terutama yang ngacengan, dan ini lebih banyak di negara ini, akan dengan senang hati mengunjungi. Menghabiskan paket internet mereka untuk menonton pergolakan dua-tiga manusia dalam satu kejadian. Bisa di ranjang, di kamar mandi, dan lebih banyak di kamar rumah tetangga.
Baik, saya terlalu ambisius membahas hasrat purba manusia itu. Kembali lagi ke situs web. Sebab kesemuanya berisi tulisan. Ya, tulisan, bukan bokep. Dan jika tulisan, akan ada koreksi, pembacaan, dan redaksi.
Tentu saja hal-hal demikian tidak bisa dianggap mudah. Apalagi konon katanya, Indonesia berada di peringkat 2 dari 61 negara. Tentu saja saya tidak tega mengatakan peringkat 2 dari atas, 2 dari bawah. Artinya Indonesia mendapat nomor urut 60 dari 61 negara untuk minat baca, berdasarkan penelitian dari Most Literred Nation in the World 2016. Barangkali tidak ada yang peduli jika yang menyampaikannya adalah teman saya yang seorang pemabuk, bukan Kepala Perpustakaan Nasional Muh Syarif Bando.
Saya sebenarnya tidak ingin menulis yang beraroma inferior begini. Semoga saja kalian yang membaca tidak jadi makin pesimis seperti yang sempat saya lakoni, semoga jadi sange, dalam artian membuat gebrakan secara individu atau lebih baik dengan kelompok untuk persoalan literasi yang keropos.
Saya sudah memulainya. Senior lapuk sudah. Organisasi saya sudah. Mari mengurus empat situs web itu, dan beberapa blog pribadi yang tidak akan saya sebutkan di sini.
Laptop sudah terbuka. Koneksi internet seperti ayam jago mengejar betina untuk kawin. Cepat. Kopi dan rokok berada di sebelah laptop. Tisu juga. Saya hendak memulai kesibukan berkencan mesra dengan tulisan-tulisan di situ-situs web tersebut, tentu saja setelah menonton bokep lokal di xhamster.

Post a Comment

0 Comments