Kumpulan Anekdot Sufi Jenaka

Kumpulan Anekdot Sufi Jenaka
Dokumen pribadi
Judul
Kumpulan Humor
Penulis
Nasruddin Hodja
Penerjemah
Nurul Hanafi
Editor
Gita Kharisma P.
ISBN
978-602-73284-9-5
Tebal
xiv + 220
Penerbit

Saya ingat dapat buku tersebut secara buru-buru. Seorang teman sedang mengunggah satu tulisan dari buku itu ke media sosial, sialnya saya melihatnya, sialnya lagi saya tertarik. Saya memberi dua pilihan kepada teman saya, meminjamkan buku tersebut atau meminjamkan pacarnya.
Nasruddin Hodja hidup dan meninggal pada abad 13 di Turki. Tepatnya Aksehir, dekat Konya, Ibu Kota dari Kesultanan Rum. Jika kita hendak bicara Nasruddin Hodja, tiba-tiba kepala saya muncul seorang lelaki dengan serban besar di kepala, naik keledai, dan menghadap ke belakang. Hodja satu periode dengan Jalaluddin Rumi. 
Kumpulan Anekdot Sufi Jenaka
Tapi kita tidak hendak membahas sosok Nasruddin Hodja secara mendalam. Melainkan tulisan-tulisan dalam kumpulan itu. Jika ingin mengetahui sosoknya, kalian bisa mengunjungi channel Youtube Media Koentji, di sana Fahruddin Faiz membahas dengan santai Nasruddin Hodja. Atau bisa klik di sini saja.
Buku berjudul Kumpulan Humor terbitan Kakatua ini saya kira tidak sekadar humor. Melainkan satire yang serius. Dibalut dengan rasa senang dan kelucuan, malah membikin satire-satire di dalamnya memiliki kesan yang memaksa ditafsirkan. 
Nasruddin Hodja juga dikenal sebagai Sufi Satirikal dari Dinasti Seljuk. Sebelum buku hilang sebelum saya kembalikan, saya sempat memotret beberapa bagian.

Kumpulan Anekdot Sufi Jenaka
Hodja mampu mengubah karamah yang luhur jadi bahan candaan. Namun jika dipikir, tak perlu mengungkapkan kemuliaan di hadapan orang lain. Ini merupakan bentuk satire. Jika Hodja melontarkan anekdot-anekdot tanpa ada maksud apa-apa, saya juga tidak tahu.
Netizen bebas menafsirkan. Meski tanpa landasan dan kajian ilmu memadahi.
Ojo dumeh. Jangan sombong. Jika berjalan di atas air, ada juga beberapa jenis kadal yang mampu berlari di atas air tanpa tenggelam. Ada juga laba-laba air, yang memang hidup di atas air.



Kumpulan Anekdot Sufi Jenaka
Lagi-lagi ini membuat saya kembali meringis. Saya mengira Hodja hendak mengatakan tentang paradigma. Tentang cara pandang. 
Sesuatu objek akan lain jika dipandang dengan paradigma yang berbeda. 
Lihat, seberang dari orang berteriak itu adalah seberang dari Hodja. Tidak keliru memang ketika Hodja mengatakan bahwa dirinya sudah berada di seberang.
Mungkin jika pertanyaannya diganti, "Bagaimana caranya aku bisa sampai ke tempatmu?"
Akan mendapat jawaban yang serius. "Di sana ada jembatan." atau, "Aku diantar tukang perahu tambang." atau, "Aku bisa berjalan di atas air."

Kumpulan Anekdot Sufi Jenaka
Saya hendak mengatakan sesuatu sambil berteriak, "Hodja memiliki pikiran yang jernih! Saya  sudah merasakannya! Saya telah menyelam dan berenang dalam sejuk pikirannya!"
Barangkali kalian tidak akan protes untuk yang satu ini. Keceriaan yang dihadirkan olehnya meski berada di hadapan kematian amat indah, elegan, dan tentu saja tidak sekadar jenaka yang receh.
Anekdot Hodja ini saya kira berkelas, beberapa anekdot lain seperti yang ditulis Agus Noor dalam Lelucon para Koruptor yang jadi bagian bersambung, berhasil membuat saya terpingkal-pingkal sambil meringis ngeri.
Kedua adalah novel Eka Kurniawan yang malah terkesan mirip anekdot berkelanjutan dengan alur 'berantakan'. Juga berhasil membuat saya terpingkal-pingkal.
Terima kasih Hodja, Eka, Gus. 



Kumpulan Anekdot Sufi Jenaka
Semua milik Allah.
Lihat dua paragraf terakhir, "Laknat! Betapa berani kau memukuli seorang darwis!..."
Pengemis tersebut mengaku sebagai darwis, dan saya kira darwis tak akan mengaku sebagai darwis.
Namun Hodja menjawab dengan cerdik seperti biasa, "Tentu saja! Aku memukuli seorang hamba Alloh dengan tongkat Alloh di bawah pohon milik Alloh, karena inilah tugasku dalam menjaga kebun Alloh."
Mari kembali lagi, silakan baca berkali-kali tanpa lupa menghitungnya. Kita bandingkan berapa banyak kalian ulangi hingga tak mampu tertawa.
Saya telah membaca ulang sebanyak 10x dan masih tertawa ketika membaca ke 11x.



Kumpulan Anekdot Sufi Jenaka
Saya paling suka yang ini.

Seseorang datang mengeluh pada sang Hodja, "Mengapa kau selalu menjawab satu pertanyaan dengan pertanyaan lain?"
"Benarkah?"

Sebenarnya semua ankedot di buku ini lucu, membuat tertawa sekaligus meringis sebab miris. Apalagi jika dibaca berkali-kali, lama-kelamaan akan mendapat maksud tertentu. Kritik sosial, spiritual, bahkan hingga ketenagaan. Saya menjadikan anekdot ini favorit karena hanya disusun oleh 2 kalimat! 2 kalimat saja dan memberikan kesan lucu tanpa celah!

Secara keseluruhan buku ini luar biasa. Diterjemahkan dengan apik tanpa mengurangi maksud yang hendak disampaikan. Saya merasa perlu berterima kasih kepada Kakatua, serta tim penerjemah dan editornya. Juga pada teman saya yang --meskipun terpaksa-- telah meminjamkan buku ini, ya ya, walau buku pinjaman ini belum saya temukan kembali. Hilang. Entah ke mana. Saya mesti segera siapkan alasan lagi ketika dia menagih seperti kemarin. //

Post a Comment

0 Comments