Salat untuk Mencari Tenang?


Descartes dikenal sebagai bapak Filsafat Modern. Sedangkan Jokowi dikenal sebagai boneka Megawati. Saya kagum dengan Soekarno, namun baru sadar bahwa Megawati anak Soekarno dengan Fatmawati ketika saya SMP. Di sini saya merasa bingung.
Ternyata Descartes bangkit dari kubur, kemudian menyeberangi samudra untuk bertemu dengan saya, kemungkinan besar Descartes akan kebingungan memberikan jalan keluar atas kebingungan saya.
“Kartes! Saya bingung. Mengapa saya tidak kunjung paham dengan politik praktis di negeri ini?”
“Halah, jangan mulai kalimatmu dengan ‘mengapa’. Saya sudah pensiun mencari ‘mengapa’ dari jawaban atas ‘mengapa’.”
“Terus saya harus bagaimana?”
“Halah, juga jangan akhiri kalimatmu dengan tanda tanya.”
“Engkau sudah tidak mau ditanya-tanya, Kartes?”
“Tidak benar. Saya lebih suka dengan pertanyaan dari dua malaikat di baka. Pertanyaannya tidak serumit pertanyaanku kepada diriku sendiri yang nyaris membuat sinting.”
“Baiklah-baiklah.”
“Saya hendak tidur lagi. Jangan bangunkan saya. Jika ada konflik atas pemikiran saya sewaktu hidup ya mohon dimaklumi. Saya sudah tenang.”
Descartes bersalaman dengan saya dan kembali ke liangnya yang masih menganga. Tentu saja setelah menyeberangi samudra.
Saya berjalan dengan kebingungan. Kembali ke orang-orang berkumpul. Mereka masih saja membicarakan Descartes, dan mulai beralih menuju Spinoza. Sedangkan televisi di pojok ruangan tiba-tiba menyala. Jangan-jangan Spinoza bangkit juga dan merasa tidak terima, pikir goblok saya.
Seakan semua orang tidak ada yang sadar, mereka terus melanjutkan pembicaraan tentang pembuktiaan hakikat dan langit. Mata saya tertarik ke televisi, menampilkan debat dua calon presiden Indonesia yang hendak dilakukan pemilu serentak pada April 2019 kelak.
Orang-orang di lingkaran tetap mbacot tiada berakhir. Untung saja ada seseorang yang datang. Menawan perhatian mereka. Semua mata terarah ke pintu. Seseorang dengan jembut di dagu yang nyaris menutupi semua wajah berdiri di sana.
“Kalian ini!” bentaknya langsung keras. “Diskusi saja terus dan biarkan pengemis di luar gerbang kampus itu tetap mengemis! Diskusi saja tentang hakikat dan tentang langit! Kalian ini hidup di bumi! Bajingan!!!”
“Sabar, Ustaz Marx. Saya juga miris,” seseorang lagi datang dari belakang lelaki berewok itu.
Sementara orang-orang yang diskusi tetap menganga, lelaki yang baru saja datang meraih kertas. Membacanya dengan nada.
“Kita mesti keluar ke jalan raya, keluar ke desa-desa, mencatat sendiri semua gejala, dan menghayati persoalan yang nyata.”
Suara lelaki itu melengking keras dari wajah yang lucu. Setelah sampai kata terakhir dia membuang kertas dengan perlahan, kemudian meneruskan membaca di kertas lainnya, “Inilah sajakku. Pamflet masa darurat. Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan.”
Dia membuang kertas terakhir dengan anggun. Orang berewok yang baru saya ketahui berama Ustaz Mark itu ikut-ikutan menganga, kagum, takjub.
Ketika ruangan hening, suara televisi tiba-tiba keras sendiri, semua melihat ke televisi, menampilkan debat yang memanas.
Azan magrib berkumandang keras dari musala di sebelah ruangan. Lelaki yang membaca sesuatu di kertas mengajak salat berjemaah.
“Kamu yang imam, Ustaz Mark.”
“Okelah, Ndra.”
Saya ikut sebab ingin berdoa, agar diberi kejelasan mengapa saya baru sadar bahwa Megawati adalah anak dari Soekarno dengan Fatmawati ketika saya SMP. //

Post a Comment

0 Comments