Menyanyikan Rock, Menyanyikan Timur Tengah dari Tanah Kelahiranmu

img scr pixabay.com

Nyawa sebuah kehidupan sering diasosiasikan dengan dongeng atau cerita yang jauh dari jangkauan nalar. Masih ingat dengan cerita seribu satu malam? Aladin? Sinbad? Ali Baba di sarang penyamun? Jika kita pernah diajari mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, ingatan kita akan diseret ke sebuah kota metropolis bernama Baghdad. Kota bekas kerajaan Babilonia itu juga yang melahirkan ilmuwan kondang dan terkemuka dari berbagai disiplin ilmu. Tanpa perlu kusebutkan namanya, kalian pasti kenal nama-nama terkemuka itu.
Itulah sekilas tentang Baghdad, kota yang pernah dimanjakan begitu rupa dengan Mazhab Hanafi. Namun tulisan ini masih jauh dari judul. Maka kusarankan pada kalian, jangan mau ditipu judul, apalagi mau ditipu oleh sales jamu yang mengaku jamunya manjur mengobati berbagai macam penyakit. Hati-hatilah.
Timur Tengah tidak hanya Baghad, kalian tentu tahu Iran. Ya, negara yang melahirkan pesepakbola ampuh sekaliber Ali Karimi itu dulunya adalah peradaban Persia yang dipimpin oleh Kaisar Cyrus yang terkenal itu. Kekuasaannya hampir sepertiga dunia. Kekuasaan yang demikian besar kiranya cukup untuk mennraktirmu rokok selama sebulan penuh. Tapi itu bukan milikku, Dik. Itu telah menjadi milik kenangan. Kita harus ikhlas, merelakannya menjadi kenangan tanpa perlu mengungkit-ungkit lagi. Aih,
Prologku terlalu panjang? Maaf. Aku sedang menanggung sengkarut, tapi lupakanlah. Sengkarut ini akan berakhir jika aku mau menekan sebuah tombol demi mendengar sebuah lagu berjudul Prahara Timur Tengah milik God Bless. Lagu garapan om Ian Antono ini terdengar sedap dan kuat dengan intro berupa irama padang pasir. Durasi 3 menit 32 detik tak lantas membuatnya menyampaikan pesan buntu. 

Kekuatan lirik dan sedikit kutipan wejangan berbahasa Arab membuatnya makin mantap. Adalah keserakahan menjarah sumber daya alam, di manapun berada, tak layak dapat ampun. Kalian ingat dengan Arab Spring yang turut melanda Mesir, Libya, Aljazair, Tunisia? Siapa perusuh di baliknya? Lalu masih ingatkah dengan dalih senjata pemusnah massal yang dilimpahkan atas diri Saddam Husein? Atau kesontoloyoan rezim Shah Reza Pahlevi yang ditunggangi kerajaan Inggris? Atau cerita si petualang Lawrence of Arabia? 
Dapat kurasa lagu ini menyimpan memori yang ngeri-ngeri sedap tentang peristiwa-peristiwa itu. 
"Tuhan yang mahakuasa tak pernah bangga saat memberi, tak perlu izin saat mengakhiri." 
Demikianlah kutipan lirik yang menurutku adalah nilai plus setelah wejangan pendek berbahasa Arab yang kusebut tadi.
Kita mundur sedikit. Angkatan lebih muda dari God Bless, yakni Power Metal pernah juga menyanyikan Timur Tengah di salah satu lagu dalam album Power One. Album bertahun 1991 itu punya banyak lagu sedap. Dan yang cukup sedap lagi bernas adalah lagu berjudul Persia. Lagu ini bercerita mengenai perang antara Iran dan Irak (yang saat itu terhasut oleh Amerika Serikat) dalam rangka mempertahankan dan merebut sumber daya alam. Perang Teluk (jika aku tak keliru menyebut nama) berlangsung hingga beberapa tahun. Musik mencekam nan gelam dipadu suara mas Arul yang serak-serak elegan membikin lagu ini terkesan sangat sakral. Maka aku harus memejamkan mata hingga beberapa menit demi menghayati perang yang terjadi di Iran saat itu.

Masih soal Timur Tengah dan grup musik God Bless, ehmm, paman Dony Fattah pernah membuat lagu bertajuk Maret 1989. Lagu berangka tahun sama dengan judul itu berkisah soal kasus yang menimpa sastrawan kondang berkewarganegaraan Inggris. Ya, sastrawan yang dikenal ampuh karena sering menjadi kadidat penerima nobel itu harus berurusan dengan umat muslim sedunia. 
Novelnya yang diterbitlan pada 1988 berjudul Satanic Verse dikecam secara serius karena dianggap menghina Islam. Bahkan Ayatulloh Khomaeni memfatwakan halal darah si sastrawan atas kemurtadannya. Lalu apa? Saya tidak berani memvonis. Ah, saya hanya tahu sedikit. Maka sastrawan kelahiran India itu akhirnya melarikan diri ke Inggris dan mendapatkan suaka dari Sri Ratu Elizabeth.
Dalam lagu Maret 1989 itu paman Dony Fattah tak pernah menyebut nama sastrawan itu. Tapi jelas kita sama-sama tahu bahwa nama sastrawan itu adalah Salman Rushdie. Hehehe.
Bagi siapapun yang punya buku kontroversial itu, izinkan saya meminjamnya. Terus terang saya belum pernah baca bukunya. 



Ditulis oleh. H. Niskala
Penggemar tim sepak bola Liverpool

Tinggalkan Komentar

0 Comments