Review Film Genius: Persahabatan Penulis dan Editor

Review Film Genius: Persahabatan Penulis dan Editor

Sutradara
Michael Grandage
Skenario    
John Logan
Berdasarkan
Max Perkins: Editor of Genius (buku)
Pemeran
Colin Andrew Firth, Jude Law, Nicole Mary Kidman, Laura Liggett Linney, Guy Edward Pearce, Dominic West
Penyunting
Chris Dickens
Rilis
2016
Durasi
1 jam 44 menit

“Berdasarkan kisah nyata” 

begitulah kalimat pertama yang muncul dari film berjudul Genius. Saya ingatkan, jika Anda belum mencoba menonton film ini, siapkan tisu. Ini film sedih. Bangsat!
Film ini menceritakan biografi penulis Thomas Kennerly Wolfe atau di film disapa Tom Wolfe. Bisa saya sebut Tom yang diperankan Jude Law, dengan Max Perkins bernama asli William Maxwell Evart Perkins yang diperankan Colin Firth, menempati sebagian besar cerita dalam film Genius 2016.
Tom adalah penulis, yang di dunia nyata juga penulis, naskahnya ditolak nyaris semua penerbit di New York. Kemudian dikirim ke penerbit Genius dengan editornya Perkins. Saat inilah mereka berdua berjumpa. Kemudian dan akrab.

Naskah Tom perlu disunting banyak sekali atas saran Perkins. Namun pada akhirnya buku tersebut terbit dan laku keras, berjudul "Look Homeward, Angel". 
Pada scene kedua, ketika Tom menulis buku keduanya, konflik kemudian muncul. Tom memiliki masalah dengan perempuan. Film ini membius penontonnya, bagaimana tidak, masalah sebenarnya bukan sebab kehidupan. Sedangkan Perkins juga demikian, digambarkan dengan karakter pendiam yang kalem. Tapi pada beberapa scene tampak dia marah kepada Tom sebab tingkahnya yang kurang ajar dan alpa moral di hadapan Scott dan istrinya.
Waxwell Perkins menjadi editor yang menangani naskah-naskah dari penulis ikonik seperti Fitzgerald dan Hemingway. Ketika dia hendak disebutkan di halaman persembahan untuk buku kedua Tom, Of Time and The River, dia menolak. Alasannya adalah, editor harus tetap anonim.
Melihat rentang waktu, saya kira film ini sudah mewakili New York 1929. 
Di Indonesia sendiri banyak penulis yang sudah lama menulis, penulis-penulis muda dan baru, tanpa mengenal editor dari penerbit buku, ataupun redaktur dari surat kabar. Barangkali editor di Indonesia memang memiliki kasta yang jauh lebih tinggi daripada penulis, ya? (CMIIW)
Kembali lagi, masalah sebenarnya adalah penyakit yang diderita Tom, yakni tuberkulosis otak. Perkins pun tidak tahu mengenai ini, hingga dia mendapat panggilan telepon dari ibu Tom. Dia sempat ke rumah sakit, sempat juga mendatangi ketika Tom dikubur.
Beberapa waktu kemudian dia mendapat surat yang ditulis Tom dari rumah sakit ketika Tom dirawat. Saat itulah film ini berakhir. Ketika Perkins menangis membaca surat sahabatnya, Tom.

Pergolakan hubungan persahabatan antara penulis dan editor ini cukup menarik, lebih menarik jika kalian pegiat literasi. Kalian akan menjumpai sistematika kerja kepenulisan Tom, juga cara menyunting naskah oleh Perkins. Kemudian debat-debat antara keduanya. Yang pada titik tertentu, kalau boleh saya sebut, mengerikan.
Film ini menjadi debut dari Grandage, sebagai sutradara teater. Sentuhan drama-drama tidak hilang. Kita bisa lihat ada beberapa scene yang mengambil sisi kehidupan pribadi kedua tokoh ini, misalnya tentang anak-anak perempuan Perkins dan istrinya.
Namun saya sendiri malah terasa janggal. Sedikit merasa bosan kala Tom selalu bertikai dengan Aline, pacar Tom. Aline menganggap Perkins sebagai selingkuhan Tom, kemudian datang ke kantor redaksi Perkins, mengacungkan pistol sungguhan kepadanya. Tokoh Arline ini lenyap ketika Tom selesai dengan hidupnya, bahkan ketika Tom masih di rumah sakit. Inilah rongga, namun bisa dimaklumi, sebab penonton akan dihibur dengan konfrontasi dramatis yang ala teater yang disajikan oleh para tokoh dengan overdramatis.
Kejanggalan kedua adalah, film ini menceritakan sastrawan Amerika, namun diperankan oleh orang-orang Inggris. Baik, ini tidak terlalu bermasalah, hanya sedikit janggal.
Sekian, saya akhiri ulasan ini dengan mengutip kata Tom ketika menganggap naskahnya akan ditolak oleh Perkins, 
“Aku tadinya tak mau datang. Aku lebih memilih penolakan lewat surat.”
Aktornya genius, produksi dan sinematografinya genius, namun filmnya saya kira cukup. Cukup memotivasi bagi kalian agar mempunyai harapan: ada editor goblok yang mau menerima sekaligus menyunting naskah --yang sama-sama goblok dan telah ditolak nyaris semua penerbit-- milik kalian. Setidaknya di negeri ini. 

Post a Comment

0 Comments