470 Halaman yang Sia-Sia, Resensi Novel O Eka Kurniawan



Judul
O – novel
Penerbit
PT. Gramedia Pustaka Utama
Pengarang
Eka Kurniawan
Editor
Mirna Yulistianti
Tahun
2016
ISBN
978-602-03-2559-0
Jumlah
470 hal.


Saya terkesan dengan kalimat pertama di novel karya Eka Kurniawan. Pada novel sebelumnya, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, dibuka dengan kutipan: 
"Hanya orang yang nggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati."
Pada novel O ini, pembukaannya cukup mencolok, diketik dengan huruf kapital:
"ENGGAK GAMPANG JADI MANUSIA," pikir O.
O adalah nama tokoh di sana. Seekor monyet betina yang kecantikannya tiada tara di kalangan bangsa monyet. Dia bercita-cita menjadi manusia. Pada blurb belakang, hanya ditulis, "TENTANG SEEKOR MONYET YANG INGIN MENIKAH DENGAN KAISAR DANGDUT"
Seekor monyet yang dimaksud blurb adalah O. Sedang Kaisar Dangdut tersebut, dianggap O sebagai kekasihnya, monyet jantan bernama Entang Kosasih. Sehingga sebagian besar cerita didominasi tokoh O. Tentang usahanya menjadi manusia dengan mengikuti sirkus topeng monyet atas saran tikus peramal.
Ribet dan ruwet, bukan? Kalian akan lebih merasa pusing jika membacanya langsung. 
Ciri khas Eka tampak, dia menulis tiap scene tidak sampai sepuluh paragraf. Jika scene itu berganti, tokoh, alur, latar, atau nyaris semua unsur intrinsiknya juga berganti. Bayangkan, betapa Eka mampu memainkan alur dan tokoh sedemikian ruwet.

Ruwet sekali, jika saya wakilkan dalam satu kata: lewah. 
Saya tidak bisa --atau sebab kedongkolan otak ini-- memahami maksud yang hendak disampaikan Eka. Dia mengangkat tokoh polisi, Sobar. Juga tokoh monyet, O dan Entang Kosasih. Bahkan membuat dongeng tentang monyet yang telah menjadi manusia, Armo Gandul. Dia juga mengangkat tokoh benda mati, Kaleng Sarden dan Revolver. Tokoh anjing, Kirik. Manusia yang bisa berubah jadi babi, Betalumur.
Semua tokoh dari alam baka maupun nyata, dari yang hidup maupun mati, mampu dikuasai Eka.
Selain tokoh, alur yang tidak bisa tenang, sebab selalu maju mundur cantik, juga dibingkai dengan apik. Selalu ada benang merah yang menghubungkan tiap scene pada satu bab. Baik, ini menarik.
Menariknya lagi, buku setebal nyaris 500 halaman ini, tidak bisa saya ambil maksud yang hendak disampaikan! Berengsek, bukan? 
Jika saya susun dari ingatan saya yang terbatas, buku ini bercerita tentang: polisi yang menembak perempuan, polisi yang kehilangan orok di tubuh perempuan yang ditembaknya, monyet yang memgang revolver polisi, sanca yang melilit bocah, ibu yang datang tanpa takut dimakan, polisi yang tertembak revolver yang dibawa monyet tadi, monyet yang mati sebab teman polisi menembaknya, bangkai monyet tidak ditemukan, pacar si monyet mati menganggap pacarnya telah menjelma jadi manusia, si monyet gadis bekerja di sirkus topeng monyet, ketemu anjing kecil buduk-bohemian-kapiran, anjing buduk ternyata dicari preman, pawang monyet dijotosi nyaris mati sebab menyembunyikan anjing buduk, kakatua yang hafal Quran selalu berteriak "Dirikan salat!", aulia yang mencoba membenarkan moral-moral penduduk yang rusak, zaman Soeharto, perampasan lahan, preman  mati dikoyak Wulandari (seekor induk anjing), dua anak yang dipaksa memakan daging anjing, papa yang marah-marah sebab adiknya dulu mati dimakan anjing, perempuan yang ditembak polisi tidak mati, polisi dan perempuan berubah jadi ikan, dua ikan ditembak preman, preman jadi buaya, jadi begal, ketemu penunggu hutan jati yang lagi mandi, menjelma jadi babi (babi ngepet), babi kena jaring voli. 
Kalian tidak sedang menganggap saya mengarang, bukan?
Saya hanya mau mengatakan, banyak kejadian-kejadian yang kompleks yang dirangkai dengan bahasa sederhana, menghasilkan rasa jenaka. Satu bagian di awal tidak akan hilang, bagian itu akan dihubungkan kembali di tengah ataupun akhir, sialnya, Eka piawai menghubungkan itu entah dengan cara apapun. Memuncultan tokoh baru, atau membuat konflik tiada henti.
Bicara soal konflik, saya selalu bilang, Eka memunculkan konflik yang tidak sekadar konflik. Konflik yang berbuntut panjang! Tidak habis-habis. Seperti pada bagian awal, ketika polisi Sobar tidak sengaja menembak Dara, pacar preman. Ternyata Dara sedang bunting. Tidak berhenti di sana, buntingnya sebab kelakuan Sobar. 
Konflik yang berlanjut, menumpuk, dan menunggu meledak ini, selalu ada di tiap bagian. Membuat yang membaca tidak akan bosan. Meskipun dari novel ini, tidak ada yang bisa saya dapatkan.
"Dan topeng monyet akan membuatmu berubah menjadi manusia?"
"Ya," kata O. "Sebagaimana pernah terjadi kepada salah satu monyet yang kukenal. Entang Kosasih." (Hlm. 53)
Itu adalah awal, ketika anjing buduk-bohemian-kapiran berbicara kepada O. Anjing yang bernama Kirik itu tidak percaya bahwa monyet berasal dari ikan, dan monyet bisa jadi manusia.
 "Gila. Masa kamu enggak tahu monyet berasal dari ikan dan bisa menjadi manusia?"
"Enggak. Aku tahu semua yang dimakan bisa jadi tai." (hlm. 284)
Begitulah sangsinya Kirik kepada kepercayaan O. Sebelum bertemu Kirik, O bertemu dengan tikus peramal. Tikus itu juga yang menambah kepercayaan O bahwa pacarnya, Entang Kosasih, telah menjelma jadi manusia.
O kemudian disarankan untuk ke pasar. Dia hendak mencari sirkus topeng monyet agar bisa belajar menjadi manusia.
Ada penjual obat yang bermain-main dengan ular sanca dan ular kobra, tapi ia tak memiliki monyet. Sudah jelas itu bukan sirkus topeng monyet. Ada gerobak yang ditarik dengan kuda, sudah jelas itu juga bukan sirkus monyet. Ada orang membawa sangkar dan di dalamnya ada seekor burung yang terus bernyanyi. Bukan. Di belakang pasar, sekelompok orang mengelilingi dua ekor ayam jago yang saling menyerang dengan taji di kaki mereka. Bukan. Ada manusia setengah telanjang merangkak di dekat selokan. Ia tak yakin apakah itu manusia atau monyet besar.
Dalam menyajikan pencarian O saja, Eka bisa menyisipkan orang adu ayam di pasar, artinya menyentuh sisi hitam yang kerap disembunyikan. Sedangkan pada bagian akhir, ada hal jenaka yang miris namun membuat makin bersemangat untuk membacanya. 
Bagian 7 dimulai dengan kalimat yang tak kalah jenaka:
SI REVOLVER SERING BERPIKIR untuk menembak kepala tuannya sendiri, demi menghentikan penderitaannya. Ia sangat mencintainya, dan tak tahan melihatnya menderita. Ia benda terbaik untuk menghentikan sisa hidupnya, yang tampaknya tak terlalu berguna. Tapi ia sadar, tak mungkin melakukan itu sendirian. Ia harus bekerja sama dengan jari-jari tangan si tuan.
Saya menangkap satu maksud: bunuh dirilah!
Ada juga sisi romantis yang terselip di sela-sela kata jenaka. Misalnya:
"Seperti es krim," katanya sambil menyetir, lalu menoleh kepada ikatan bunga yang tergeletak di tempat duduk samping. "Hati perempuan gampang meleleh oleh sedikit kehangatan."
Saya berterima kasih kepada Eka Kurniawan yang telah hidup dan menulis buku-buku yang telah saya baca. Kemudian kepada Mbak Kiki yang bersedia saya rampok bukunya.
Novel ini bisa dibaca siapa saja, yang hidup maupun yang telah tiada. Bahasanya tidak sevulgar Seperti Dendam, lebih bersahabat. Apalagi ada kutipan Quran. Ada perjuangan orang suci. Ada kakatua bernama Siti yang hafal Quran, dan pacarnya yang hanya peduli dengan lubang kecil di bawah ekornya.
Bagian akhir, Betalumur, pawang sirkus topeng monyet O, jadi babi ngepet. Bukan untuk cari duit. Melainkan karena perempuan di bilik yang dia rindukan bulir yang menetes melewati celah payudaranya. Dia menyuruh agar Betalumur belajar dari binatang, agar bisa tahu namanya. 
Lantas apa hubungannya dengan sejuta kejadian yang bermacam-macam sebelumnya? Ada. Hubungan yang kompleks. Lebih banyak adalah sebab. Akibat dipaparkan lebih dulu, kemudian sebabnya dinarasikan pada akhir. 
Jika membaca novel-novel Eka, saya sarankan untuk segera menuntaskannya. Kalau bisa dalam sekali duduk. Jika tidak, saya takut kalian jadi sinting. //

Post a Comment

0 Comments